The Last Latter



The Last Latter
Seorang gadis berjalan menuju sekolahnya menggunakan earphone, sesaat dia pun menaiki bus, ia pun duduk dan melihat pemandangan luar, sesaat seorang namja naik bus dan melihat gadis itu duduk sendiri, namja itu pun tersenyum

“kya, jinhee-ah..” teriak namja itu kemudian mendekati yeoja itu,yeoja itu pun melihat kedatangan namja itu

“joonsoo-ya..”

“kenapa, kau tidak menjawab pesanku semalam eoh..”

“euhm..” jinhee pun melihat ponselnya dan melihat pesan dari temannya itu

“ah.. mianhe, aku tidak sempat membacanya aku ketiduran, miahnhae..”

“ne..” tak berapa lama mereka pun sampai kesekolah dan berjalan menuju loker, saat jinhee membuka loker ada sebuah surat yang jatuh

“eoh..” jinhee pun mengambil surat tersebut, sesaat jnhee pun membuka surat tersebut dan membacanya

‘ anyeong, bagaimana kabarmu pagi ini, dan apa semalam tidurmu nyenyak, aku selalu memikirkanmu tiap malam, aku selalu menanti untuk bertemu denganmu, karenapada saat itu adalah saat yang paling membahagiakan bagiku, jika kau ingin membalas suratku, ku bisa membalas surat ini jika mau, aku akan menulis surat lagi untukmu lain waktu, anyeong..’

“woah .. pyeonji..” ujar junsu mendekat
jinhee ampun menyembunyikannya

“m..mwo.. aninyeo.. amuguto anya”

“keotjimal eobseo..”

“ah.. aku selalu tak bisa bohong padamu,
Ne..”

“sarangi pyeonji..”

“kaurasa begitu..”

“woah..” sesaat tangan jinhee menutup mulut junsoo

“sstt.. jaga mulutmu, ini hanya anatara kita, OK” mata mereka pun saling memandang
Joonsoo pun mengisyaratkan dengan jarinya, jinhee punmenarik nafas lega, sesaat mereka masuk kelas dan jinhee masih, kepikiran dengan surat yang ia terima

“apa yang kau pikir Go JinHee, pasti itu hanya orang iseng saja, kumohon ayolah.. huft..”
Junsu pun melihat Jinhee dari tadi, sesaat guru yang mengajar pun menegur Joonsoo

“kya, han joonsoo apa yang kau pikir oeh..”

“animida” saat jam istirahat mereka pun mengantri di kantin sekolah

“ajuma bisakah, aku dapat nasi yang sedikit lembek”

“tambahkan saja supnya, besok mungkin akan kusiapkan pesananmu”

“ne, kangsamhanida” jinhee pun heran dengan sikap Junsu

“apa yang kau lakukan kenapa kau memesan nasi lembek” mereka pun duduk bersama, dan Junsu pun menuangkan supnya kedalam nasi

“aku ada sedikit gangguan pencernaan, jadi aku tidak bisa mengkosumsi nasi yang keras lagi sekarang

“ah.. baiklah,lebih baik kau jaga kesehatanmu, aku tidak mau kau sakit”Junsu pun melihat Jinhee intens, jinhee yang sadar akan hal itu pun menegur junsu

“apa yang kau lihat eoh..” Junsu hanya tersennyum, sesaat seorang namja yang sangat terkenal dikalangkan remaja putri pun datang kekantin, jinhee pun melihat namja itu, Junsu punhanya mendecak kesal

“apa yang kau lihat, apa sang namja  Han chansoo”

anyi.. meski aku melihatnya hingga mati dia tidak akan memandangku”Junsu memandang jinhee

“neo.. chansu johanya”

“mwo...
Apa yang kau pikirkan eoh,,”

“semua yeoja menyukainya, dan kurasa itu bukan hal yang aneh lagi disini”

“jinjja, tapi apa aku terlihat menyukainya juga”

“entahlah..  aku tidak tahu”

“ah.. kya.. kaya..
Aku selalu berusaha agar tidak seperti para yeoja disini, yang tergila-gila pada chansoo, aku tidak ingin menyukainya”

“apa kau sudah, menyukai namja lain”

“apa kau harus tahu itu ah..”

“kya, sudah berapa lama kita berteman, tapi kau belum percaya padaku”

“kya, apa kau cemburu..” ejek jinhee

“cih, mwo..na..” sesaat chansoo duduk didepan mereka, mereka berdua sangat kaget melihatnya, bahkan para siswa pun melihat kearah mereka

“anyeong, disini tempat kosong bukan, jadi bolehkan jika aku duduk disini”

“e..e... ne” ujar jinhee terbata, mereka pun makan bersama walau terlihat sedikit canggung, Junsu pun melihat jinhee yang terpaku pada chansoo

Jinhee duduk dikelas mengerjakan tugasnya, sesekali ia mengirim pesan pada Junsu yang pergi menghilang
“kau dimana cepat masuk, kelas akan segera dimulai” sesaat ia melihat sekitar, dan melihat chansoo yang masuk sekelasnya dan duduk di bagian bangku belakang, namun jinhee bersikap acuh dan melihat ponsel menunggu balasan dari Junsu

“bocah itu, pergi kemana” sesaat guru pun masuk dan mereka memberikan salam

“baiklah, cepat buka buku kalian”guru pun memperhatikan bangku kosong

“nona Go, siapa yang disampingmu, kenapa dia belum masuk” sesaat Junsu masuk dan memberi salam dan meminta maaf dengan gurunya

“mian, sam, saya dari kamar mandi dan tidak sengaja ketiduran, tolong maafkan aku”

“baiklah, duduk ditempat dudukmu itu”

“ne khangsamhanida” joonsoo pun duduk

“kenapa kau lama sekali”

“bukankah aku sudah bilang kalau aku sedang gangguan pencernaa”

“mwo.. kya, kau jorok sekali” joonsoo melihat jinhee

“hehehm mianhe”melihat jinhee mendecak kesal joonsoo hanya tersenyum miris.
            Mereka pun pulang bersama, dan berjalan berdampingan
“kya, apa kau pernah berpikir, ada orang yang akan iri dengan persahabatan kita” tanya joonsoo

“entahlah, aku juga bingung
Tapi, Junsu-ya jangan pernah tinggalkan aku, dan persahabatan kita”

“kenapa begitu”

“joon-ah.. kumohon jangan mencobaku dengan seperti ini”
Flashback on
            Seorang yeoja kecil berdiri disebuah halte bus, sesaat turun hujan dan dia hanya bisa diam, sesaat seorang namja kecil lain datang dan memberikannya sebuah payung

“ini, pakailah..” setelah menerima payung itu, yeoja kecil itu tersenyum manis pada namja kecil itu, sesaat namja kecil itu berlari menembus hujan. Sesampainya digang rumahnya ia melihat namja kecil itu dipukuli ayahnya karena basah kuyup

“kya, kenapa kau basah-basahan eoh, bagaimana jika kau sakit, kau pikir biayaberobat itu murah, kau harusnya tahu, bagaimana keuangan kita saat ini, kenapa kau bertingkah seperti ini” ujar namja paruh baya itu terus memukuli betis namja kecil itu dengan kayu. Yeoja kecil itu berusaha mendekat namun ia ditarik ibunya masuk kerumahnya, ia hanya bisa melihat namja itu terluka.
Malamnya jinhee kecil diam- diam masuk kerumah joonsoo membawa kotak obat, ia pun mengetuk jendela kamar joonsoo

“joon-ah.. joon-ah..” mendengar suara Junsu pun terbangun, dan membuka jendela kamarnya, ia pun melihat jinhee dengan membawa kotak obat. Sesaat jinhee pun membersihkan dan mengobati luka joonsoo

“bagaimana..”

“gumawo..”

“seharusnya aku yang mengatakan itu, padamu karena kau banyak membantuku, joon-ah”

5 tahun kemudian saat jinhee dan joonsoo beranjak dewasa, joonsoo tertimpa kemalangan dengan kematian ibunya karena penyakit kanker, saat itu joonsoo sangat terpukul karena kehilangan ibunya yang sangat ia cintai
Joonsoo hanya bisa terdiam dengan linangan airmata tanpa henti mengalir dipipinya, dia hanya duduk didekat tempat penghormatan terakhir ibunya, sambil memandangi foto ibunya

“joon-ah”  panggil seorang yeoja didepannya yang ternyata adalah jinhee, joonsoo pun tak merespons
“joon-ah, kudengar kau belum makan dari kemarin,
Kau harus makan,
Aku tahu ini sangat sedih bagimu
Tapi kumohon, kau harus merelakannya
Ajjuma, pasti sudah bahagia disana
Joon-ah,,”

“pergilah, saat ini aku ingin sendirian”
Jinhee lantas memeluk joonsoo erat, sambil menangis

“joonsoo, kumohon jangan begini, aku tahu kau pasti sedang sangat sedih, tapi kau harus memikirkan dirimu juga
Masih ada kami yang menyangimu disini., ada ayahmu, ada aku dan orangtuaku, dan teman-teman, mereka semua menyangimu, joon-ah..”joonsoo tetap terdiam

“joonsoo-ah..ah..eheheuhaeu,, joonsoo-ah.. eeuheeuhh..heueeuheeuheeuhheeuheeuheeeuh..
Joon-ah..”
“eomma..
Heueheueeuheeuh.. kenapa kau meninggalkan aku, kenapa kau begitu cepat pergi..ii,iii..ii
Heeeuhheeuuehhheeu.. eueeheeuheeuheeuheeuheeuheeuh.. eoma..aa..aa..ah..!” jinhee pun makin erat memeluk joonsoo

Skip time

Jinhee hanya berdiri diam saat beberapa siswa melemparinya dengan telur
“kya, anak koruptor seharusnya kau tahu malu dan tidak menginjakkan kakimu disini lagi”

“apa kau tidak malu dengan kelakuan ayahmu yang seorang koruptor eoh..”

“ayahku bukan koruptor, di hanya difitnah, apa perlu ku ulangi itu
APPAKU TIDAK MELAKUKANNYA, DIA HANYA DIFITNAH APA KALIAN TULI EOH..!!!” seorang yeoja punberusaha kembali melempari telur, namun sesaat ada namja yang menhadangnya sehingga ia yang terkena lemparan telur
CPAAK... jinhee pun melihat kearah namja itu
“joonsoo-ya..” joonsoo pun berbalik kearah para yeoja yang membully jinhee

“hentikan dan pergilah”

“kya, Han Joonsoo, kurasa kau tak perlu ikut campur
Ah.. apa kau membela anak koruptor ini, begitu..”

“atau kalian berdua berpacaran”

“joonsoo-ya pergilah..
Kami tak ada urusan padamu”

“jika ini ada hubungannya dengan Jinhee maka ada hubungannya juga denganku”

“mwo..”

“kya Han Joonsoo!!!”

“joon-ah, pergilah..”

“apa kalian juga orang-orang yang sempurna, apa kalian tahu bagaiman orang tua kalian mencari uang, ataukah aku perlu membukanya satu persatu disini,
Bahwa ayah dari seorang Kang Minsun adalah seorang pejabat dikementerian yang sering menerima suap dari seorang wakil bendahara, jangmi appa”

“kya Han Joonsoo, neo..”

“atau, jaksa tinggi bong monchul, yang adil itu ternyata sering sekali menerima suap dari kasus yang sering ia tangani, bukankah  publik umum sudah mengetahuinya, apa aku perlu membukanya dan mempostingnya
Ah.. kalian pasti berpikir itu sudah dihapus dimedia, tapi jika aku membukanya sekarang pasti itu akan muncul”

“kya hanjoonsoo, hentikan omong kosongmu..”

“ah.. omong kosong..
Baiklah biar kutunjukan” joonsoo pun mengambil ponselnya dan terlihat wajah yeoja yang membuliy jinhee panik

“kya.. Han Joonsoo, awas jika kau membukanya..”

“kalau begitu pergilah, dan jangan pernah ganggu Jinhee”
Yeoja itu pun meninggalkan Jinhee dan Joonsoo sendiran

“joon-ah.. apa kau..”

“tentu saja bohong, aku tidak memiliki bukti itu, postingannya pasti sudah dihapus tidak lama setlah kasus itu terangkat”

“mwo..”

“membohongi yeoja sombong seperti mereka terkadang perlu dilakukan”

“kya...” Jinhee pun memukul perut joonsoo

“arrgghh..” joonsoo terlihat sangat kesakitan

“joon-ah.. apa yang..”

“akhir-akhir ini perutku sangat sakit, terasa nyeri dan terkadang mual”

“apa kau sudah periksa kedokter”

“tidak perlu, kurasa ini karena aku telat makan”

“Joon-ah..” Joonsoo pun tersenyum dan melihat jinhee

“kya,kya... kya.. kau juga mudah dibohongi eoh..”

“kya ,kau ini..”

Flash back off
            Jinhee sedang duduk didepan meja belajarnya ia pun melihat kearah laci dan membuka surat yang ia terima
“siapa sebenarnya pengirim surat ini, kenapa dia hanya mengirim surat tanpa nama” ia pun mengambil kertas dan pena

‘kau siapa, apa kita saling mengenal, kenapa kau tidak memberikan namamu disini, aku akan sangat akan senang jika bisa mengenalmu,tapi kau tidak mengatakannya, kuharap kau tidak sedang bercanda atau mengerjaiku, karena aku adalah tipe orang yang mudah percaya, tapi tidak pada orang yang baru aku kenal
Jinhee
Lihat aku menulis namaku, jika kau inging menulis lagi, kau juga harus memberi namamu.. OK’

Tulis Jinhee, ia pun melipat surat itu kembali, namun ia ragu dan memasukan surat itu rak sampah
“heuh..kenapa kau bodoh sekali Jinhee pasti surat itu hanya orang iseng, dia pasti mengerjaimu dan ingin menjebakmu
Aaa,,ahhh..” Jinhee pun melihat jendela kamar Joonsoo
“kemana bocah itu” Jinhee pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada joonsoo

‘kau dimana’ jinhee pun kembali melihat jendela kamar joonsoo namun tidak ada apapun, dia pun merasa bosan dan melempar ponselnya di atas meja. Tak berapa lama pesan Jinhee dibalas oleh joonsoo

aku sedang dikamar, sedang membaca buku’ jinhee pun merasa aneh, dan tak lama dari itu lampu kamar Joonsoo menyala

“apa dia berbohong” gumam Jinhee. Disisi lain Joonsoo sedang menahan sakitnya

“agh..heheuh. agh..
Mian Jinhee-ya aku harus berbohong..” sesaat ia merasakan mual yang hebat ia pun dengan lemas menuju kekamar mandi

“hugh,, huagh.. hugh..” Joonsoo memuntahkan cairan lambung yang sangat menyakitkan baginya, dia pun terduduk lemas disisi kamar mandi, matanya pun terlihat kabur dan sesaat menjadi gelap keseluruhan

Skip time
Jinhee berjalan dilorong sekolahnya, ia pun tak henti-hentinya mencoba menghubungi joonsoo namun tidak ada jawaban

‘nomor yang anda tuju tidak menjawab, coba-‘
“joonsoo-ah.. eodiseo..” karena sibuk menghubungi joonsoo, hingga jinhee tidak fokus berjalan hingaa menabrak seorang namja
BRAKK..

“ah, mianhae..”

“ah..”

“ah.. chansoo-ssi”

“aaah.. kau..” mereka pun beranjak

“mianhaeyo, apa kau terluka”

“ani, kau sendiri”

“kau tak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja” Jinhee pun menghindar

“kya, kenapa kau buru-buru.. jam kelas masih agak lama, bukan”

“ah.. n..ne..”

“santai saja lebih baik, kita jalan bersama”

“ehmm... m..mwo..”

“kau tak perlu kaget sampai seperti itu”

“aniyeo.. keunyang.. ne.. kajja” mereka pun berjalan bersama menuju kelas

“kudengar, kau murid yang cukup berprestasi”

“ani.. itu hanya ejekan, sebenarnya temanku yang cerdas, bukan aku..”

“mwo.. chingu”

“ne, dia murid yang cerdas, jadi tiap kali ada apapun aku belajar dengannya, dan jika ujian, tentu saja aku menyonteknya.. itu hal bodoh, jangan kau tiru”

“hahaha, kau lucu sekali, tapi aku suka itu”

“ehmm..”

“seseorang yang jujur, dan terbuka sepertimu”

“apa magsudmu”

“kita baru pertama berbicara, namun, kau sudah terbuka” Jinhee pun sedikit menyesali ucapannya tadi

“ah.. keurae..
Ah.. babboya”

“sudahlah, aku akan janji akan menjaga rahasiamu itu”

“ne...”

“tapi, kau terlihat begitu dekat dengan temanmu itu”

“mwo”

“tidak jarang aku memperhatikan kalian, kalian begitu dekat
Mungkin jika orang yang pertama kali melihat akan menyangka, jika kaliah adalah sepasang kekasih”
“mwo, anirago, kami hanya teman sejak kecil, dan kebetulan rumah kami bersebrangan jadi kami sangat dekat” saat sampai didepan kelas Joonsoo pun juga ada disana, mereka pun saling melihat

“kya, HanJoonsoo dari mana saja kau”

“aku masuk duluan” Joonsoo pun masuk kelas, Chansoo pun melihat expresi Joonsoo yang terlihat buruk, dan sikap Jinhee

“kya, joonsoo-ya” Jinhee pun menyusul Joonsoo masuk kelas, diikuti Chansoo

Skip time
Guru pun menjelaskan pelajarannya didepan , Joonsoo dan jinhee pun memperhatikannya, beda dengan chansoo yang memperhatikan Jinhee, seorang yeoja tak sengaja melihat chansoo yang memperhatikan Jinhee,yeoja bernama daehye itu pun mendecak kesal

Saat jam istiharat, beberapa murid pun langsung keluar, sedangkan Joonsoo tinggal beberapa saat, tak lama, Jinhee yang duduk tak jauh dari Joonsoo menghampirinya

“kya, Joon-ah..”

“apa kau lapar” potong joonsoo sebelum jinhee menyelesaikan perkataannya

“joon-ah, sebenarnya kau semalam dari mana, kenapa kau sangat aneh semalam” Joonsoo terlihat lesu saat membicarakan hal tersebut

“kau berbohongkan semalam..” joonsoo tercekat mendengar perkataan Jinhee

“jin-ah.. bagaimana kau..” tak berapa lama chansoo menghampiri mereka

“kya apa kalian tidak lapar, ayo makan..” chansoo pun menarik keluar Jinhee dan Joonsoo, membuat bingung beberapa orang disana termasuk daehye yang memperhatikan Chansoo

“kya, lihat, kenapa chansoo akhir-akhir ini dekat dengan mereka, bukankah mereka sama sekali tak pernah tegur sapa kenapa”

“kya daehye apa kau tahu sesuatu”

“ani..”

Chansoo pun membawa jinhee dan Joonsoo mengantri makan. Jinhee masih sangat shock dengan kejadian ini

“ajjuma, beri aku sup rumput laut itu,
Kya kalian mau makan apa”

“ah.. chansoo-ya..”

“ajjuma, apa bubur yang aku pesan ada” ujar Joonsoo yang langsung mengantri

“ne., Sudah aku siapkan” Chansoo memasang wajah yang muram ketika itu

“ne, khangsamhanida”

“jinhee, kau mau makan apa/Jin-hee kau makan apa” ujar kedua namja itu bersamaan, jinhee pun makin bingung dengan itu

“ah.. biar aku pesan sendiri” jinhee pun mengambil tempat makan. Setelah selesai mereka pun duduk bersama, beberapa siswa pun memandang mereka aneh

“apa aku mengganggu disini”

“ah..ah.. eh
Aniyeo...”

“aku sudah selesai makan” ujar joonsoo

“joon-ah, kau..”

“aku hanya makan bubur, jadi cepat
Nikmatilah makan kalian” ujar Joonsoo meninggalkan Jinhee dan chansoo

“apa aku mengganggu”

“aniyeo, memang akhir akhir ini dia memang agak aneh, aku juga tidak tahu kenapa”

Beberapa saat Joonsoo berada dikamar mandi tak lama chansoo datang dan berdiri disamping Joonsoo

“apa yang kau inginkan” chansoo pun melihat Joonsoo intens

“Joonsoo-ya..”

“apa kau ingin identitas kita terbongkar
Aku selalu diam, dan mencoba menghidarimu
Tapi sekarang, kenapa kau..”

“ini karena kondisimu”

“mwo”

“ayah, sudah tahu kondisimu saat ini
Joonsoo, kau harus operasi, penyakit yang kau derita harus segera dioperasi”

“apa peduli kalian, eoh..”

“joonsoo-ya, kumohon jangan bersikap begini”

“kemudian, kenapa kau lakukan dengan jinhee”

“aku..
Kurasa aku menyukainya..” Joonsoo pun terdiam

“ada satu hal yang membuatku sangat membencimu, tapi ada beberapa hal yang harus membuatku menerimamu dan menyukaimu”

“joonsoo, apa yang kau bicarakan”

“tetaplah seperti ini
Dan katakan pada ayah, jika ia ingin bertemu denganku, saat aku sudah sekarat dan tidak berdaya lagi”

“joonsoo” Joonsoo pun pergi meninggalkan Chansoo
Sedangkan jinhee berjalan menuju loker untuk menaruh barangnya, sesaat ia kembali menemukan sebuah surat, ia pun mengambilnya dan malas untuk membacanya kemudian menaruhnya dalam tas
“apakah dia sedang tidak bercanda
Kenapa aku mulai takut saat ini” sesaat daehye dan teman-temannya menghampiri Jinhee, jinhee pun mencoba menghindar, namu, tubuhnya didorong kearah loker

“kya, Go Jinhee”

“apa yang kalian inginkan”

“ternyata kau tak sebodoh yang kami kira”

“kya, apa kau menggoda chansoo”

“mwo”

“kya, apa yang kau lakukan pada chansoo, hingga dia seperti ini”

“apa yang kalian bicarakan, aku tidak mengerti”

“kya.. kau” salah satu dari mereka pun menarik pipi jinhee kedepan

“kya, kau jangan pura-pura lugu, aku tahu kau pasti merayu chansoo kan”

“jangan dekati chansoo”
PLOOOP.. CRIIKK mereka pun menoleh kesumber suara, yang ternyata adalah Joonsoo yang sedari tadi merekam kejadian itu

“ah,.. kya apa yang kau lakukan..”

“hanya merekam saja, lalu jika bagus kuungah, agar semua orang tahu, kelakuan kalian yang sebenarnya”

“kya han Joonsoo, berikan ponselmu itu”

“apa kau ingin ini, tunggu setelah video ini ku unggah, dan mendapat respons baru akan kuberikan ini padamu, Jang Daehye”

“ayo kita pergi..”

“daehye-ssi”

“ayo kita pergi, jika tidak bocah bodoh itu akan mengunggah video kita” mereka semua pergi dengan raut wajah kesal. Joonsoo pun mendekati Jinhee

“gumawo Joonsoo-ya”

“ehm.. kenapa kau tidak melawan,biasanya kau akan melawan”

“aku tidak tahu sebab jelasnya apa
Jadi aku..” Jinhee pun memeluk Joonsoo

“gumawo,joon-ah, kau selalu ada untukku” joonsoo yang hendak memeluk Jinhee ragu

“ne,kwaenjanayo
 kau bisa melepas pelukanmu sekarang” Jinhee melepas pelukannya

“joon-ah, jeongmal gumawoyo...”

Skip time

Chansoo sampai kerumahnya dan masuk, sesaat ibunya datang menghampirinya
“chansoo-ya”

“waeyo..”

“bagaiman, apa kau sudah bertemu dengan Joonsoo”

“ehm.. dan aku sempat bicara padanya saat itu”

“apa yang kalian bicarakan..”sesaat chansoo melihat ayahnya

“hanya obrolan biasa, obrolan sebagai teman”

“ah.. baguslah, setidaknya kalian sudah mulai dekat”

“aku tidak yakin jika,  bocah itu akan mudah menerimamu” ujar Han bongmun(ayah chansoo dan Joonsoo), chansoo pun melirik tajam ayahnya

“yeobeo, apa yang kau bicarakan, chansoo cepat mandi dan makan eoh..”

“abeoji, apa kau tahu yang menyebabkan Joonsoo seperti itu adalah kau” bongmun pun memandang Chansoo intens

“Apa kau tahu, Joonsoo sakit separah ini karena siapa”
“chansoo-ya masuk kekamarmu”ujar eommanya melerai

“abeoji, aku mulai sadar, bahwa orang-orang dirumah ini sangat jahat pada Joonsoo, bahkan kita bersikap baik padanya hanya karena dia sekarat sekarang”

“chansoo tutu mulutmu”

“ne, abeoji” jawab chansoo kemudian masuk kekamarnya

Other place
Joonsoo masuk kamarnya dan menutup pintunya
“kau sudah sampai” ujar nenek Joonsoo

“ne, halmoni”

“ganti  bajumu, lalu cepat makan, halmoni sudah masakan makanan kesukaanmu”

“ne, gumawo halmoni” joonsoo lantas memeluk harmoninya

“terima kasih sudah peduli padaku, terimakasih, sudah memasakan makanan kesukaanku, terima kasih halmoni sudah mau menjagaku”

“kya, cepat mandi, dan makan badanmu sangat bau” kemudian joonsoo pergi untuk mandi, dan setelah selesai dia pun menuju meja makan bersama harmoninya makan bersama

“bagaimana sekolahmu”

“baik, tidak ada masalah”

“joon-ah..”

“ehm,..”

“apa kau satu sekolah dengan anak itu” joonsoo terdiam sejenak

“ne, bahkan kami sekelas”

“mwo! Bagaimana bisa, Joonsoo, apa kau mau pindah, jika kau tidak mau melihatnya halmoni akan melakukan berbagai cara agar dia pindah”

“tidak perlu halmoni, halmoni tidak perlu melakukan itu, aku tidak apa-apa jika bersamanya, kami tidak memiliki masalah, bahkan akhir-akhir ini, kami cukup dekat”

“mwo..!,bagaiman bisa kau..”

“halmoni”

“ah.. kau ini” joonsoo pun tersenyum

“joonsoo, apa kau sudah periksa kedokter lagi” Joonsoo pun terdiam
“Joonsoo, kau harus sering sering pergi kedokter, dan minum obatnya”

“halmoni, bisakah tidak membahas itu..
Aku tidak apa-apa selama aku masih bersama halmoni, aku merasa sehat dan bisa melakukan apapun”

“joon-ah..
Kau harus banyak makan eoh..
Lihat dirimu sekarang sangat kurus, bagaiman ada seorang gadis bisa menyukaimu jika kau kurus seperti ini, cepat habiskan makananmu eoh..” ujar halmoni yang terlihat menahan kesedihannya

Skip Time
“hugh,, huuaaghh,,, eghm,, huueaaaghh.. huuuaggghh” Joonsoo memuntahkan makannan yang ia makan tadi, terasa sangat menyakitkan baginya, memuntahkan makanan yang ia selalu makan hingaa tak ada nutrisi yang bisa masuk dalam tubuhnya.
“huaaghh.. hugh,, huueeaaagghhh..ahaah.. euheuh ehuh” Joonsoo pun terkulai lemas di sisi kamar mandi. Sedangkan harmoninya menangis dibalik pintu mendengar Joonsoo yang kesakitan
“joonsoo-ya.. eheuheuehehueheuheu.... euhkm..”

Flashback on
Joonsoo halmoni berjalan menuju sebuah rumah sakit dan masuk kesebuah ruang dokter
“jadi, cucu anda tidak memberitahu anda kemarin”

“ne, apakan maghnya cukup parah”

“itu bukan magh, atau gastroalitis, tapi lebih parah dari itu”

“mwo, apa yang uisa katakan
Sebenarnya uri Joonsoo sakit apa”

“kami mendiagnosa, jika cucu anda mengalami kanker lambung yang kronis, sekarang kondisinya akan makin parah”

“mwo.. kanker..”

“apa sebelumnya keluarganya memiliki riwayat”

“haeuh.. ne, ibunya, dulu juga memiliki kanker, dia meninggal karena kanker haheueuh..”

“halmoni, tolong jaga kesehatan Joonsoo sekarang, jika perlu hindarkan makanan yang menyengat baik bumbu dan aroma, karena akan membuat reaksi yang buruk bagi joonsoo”

“apakah ada jalan lain seperti operasi”

“sampai saat, tindakan operasi belum dapat menyembuhkan secara total”

“lalu bagaiman dengan uri joonsoo
Dia pasti akan merasa kesakitan..”
“kami juga ikut merasa sedih nyonya, semoga ada keajaban bagi cucu anda” sesaat sang dokter melihat kearah pintu yang ternyata Joonsoo sudah berada didepan pintu. Halmoni pun ikut menoleh kearahanya dan melihat joonsoo

“Joonsoo-ya..” Joonsoo hanya menatap sedih neneknya

Flashback off

Halmoni pun menidurkan Joonsoo diranjangnya, ia pun memandang miris cucunya tersebut
“joonsoo-ya kenapa ini terjadi padamu, kenapa kau harus mengalami ini,
Kenapa harus kau nak, kau masih muda, tapi kau sudah menanggung derita seperti ini
Andai saja menyakitmu berpindah ketubuh renta ini, halmoni rela joonsoo”

“halmoni jangan bicara seperti itu” ujar Joonsoo lirih

“joonsoo-ya”

“aku akan baik-baik saja, halmoni tak perlu khawatir”

“joonsoo-ya...”

“halmoni, aku lelah bisakah, halmoni tinggalkan aku sendiri, aku ingin tidur”

“ne..” halmoni pun pergi meninggalkan Joonsoo, dengan perasaaan yang sangat sedih, sedangkan joonsoo ditidurnya tanpa terasa mengalirkan airmata, ia pun beranjak dari ranjangnya dan mencari sebuah kertas dan alat tulis dan mulai menuliskan sesuatu
Sedangkan Jinhee sedang mengerjakan tugas sekolah saat mengambil buku di tas ia pun melihat surat yang belum sempat ia baca, jinhee pun membuka surat itu dan mulai membacanya

‘jinhee-ya anyeong..
Pagi ini kau bangun dengan wajah yang bahagia pastinya, aku sangat bahagia ketika melihatmu dikeseharianku, hari hari yang kulalui saat ini benar benar beratm namun ketika aku melihatmu. Itu tak terasa lagi, kau mampu menyingkap semua kabut kesedihanku dengan senyummu, aku mulai tahu betapa berharganya hidupku saat aku melihatmu, kini kebahagiaanku ada bersamamu, sekarang hingaa aku meninggal kelak’

“siapa sebernya pengirim surat ini
Ah.. kenapa membuatku makin bingung saja..” Jinhee pun melihat keluar jendela dan mendapati Joonsoo sedang didepan meja belajar

“kya,,joon-ah...!” Joonsoo pun melihat kearah Jinhee

“waeyo..?”

“ehmm.. ani.. aku hanya ingin memanggilmu..”

“kya, kau ini..”joonsoo pun mengambil sebuah buku

“apa ini magsudmu..”

“kya, kau ini, kau menghinaku,
Ah.. ahm.. OK..
Aku pinjam buku itu, besok pagi akan kukembalikan” Joonsoo mengangguk dan menberi isyarat untuk kearah balkon. Mereka berdua pun naik ke balkon rumah mereka, saat keduanya sampai, Joonsoo pun melempar
Bukunya kearah Jinhee, dan Jinhee pun menerimannya dengan baik

“tangkap..”

“ah,, yap dapat
Gumawo..”

“ne..”

“KYA... HAN JOONSOO KAULAH SAHABAT TERBAIK SEPANJANG MASA, AKU AKAN MENGINGATMU TERUS”

“NE, JANGAN LUPAKAN AKU, WALAU AKU SUDAH MATI NANTI EOH..”

“KYA...!!
Kita akan hidup dan mati berdua, bukankah itu janji kita, jadi jika kau mati duluan aku akan membencimu”

“ne, terserah kau saja..” Joonsoo merasa sangat sedih mendengar ungkapan itu, begitu pula dengan Jinhee meski hanya lelucon dia merasa jika Joonsoo akan benar benar meninggalkannya

Paginya Jinhee berjalan dihalaman sekolah, sesaat chansoo datang dan merangkulnya dari belakang
“jinhee-ya..”

“ah., chansoo..??”

“wah, waeyo..
Tak perlu canggung begitu, biasa saja, seolah, olah, kau sedang bersama temanmu”

“museun.. niriyo”

“aah,, uri..chinguya”

“chingu..???”

“hah... kau lucu sekali, aku makin menyukaimu, Jinhee” Jinhee mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari chansoo

“m..mwo..” chansoo tersenyum lebar, melihat expresi jinhee

“wae..”

“hah..hahahhahhahhahhaa... kau lucu sekali eoh..”
PLAKK Jinhee memukul kepala chansoo
“bagaimana bisa, eoh.. kau ini lucu sekali”

“kenapa kau memukul kepalaku”

“kya chansoo, kau ini bagaimana, bukankah kau tadi bilang jika kau ini temanku, tapi dengan cepat kau juga bilang kau menyukaiku, itu sangat menjijikan, tapi itu lucu sekali..
Kau membuatku tertawa pagi ini, good job” jinhee pun berjalan meninggalkan Chansoo

“ah.. dia memukul kepalaku..
Ah kenapa dengan dia, aku baru saja mengutarakan perasaanku, tapi dia memukul kepalaku
Hah, tapi dia perempuan pertama yang memukul kepalaku” Chansoo pun tersenyum
Jinhee berjalan di koridor menuju loker, dia pun melihat joonsoo
“kau sudah datang..”

“ne..” Jinhee pun membuka loker, dan sesaat ada surat yang terjatuh

“pyeonji...”Jinhee pun mengambil surat itu, dan memasukannya didalam tasnya

“kau  mau membacanya dulu”

“aku akan membukanya dirumah..”

“kya, baca disini saja, aku ingin melihatnya”

“ahn.. ini rahasiaku, hanya kau penulis surat ini dan Tuhan yang tahu”

“kau pelit sekali..” Jinhee hanya melempar senyum

“ah, ini bukumu, gumawo...
Tapi kurasa aku familiar dengan tulisan itu” joonsoo terdiam

“benarkah, tentu bukankah kau sering mencontek tugasku”

“Kya.. kau ini,,”

“kajja, kita kelas”
Saat berada dikelas, mereka pun belajar seperti biasa.
Berbeda dengan halmoni yang datang keperusahaan ayah Joonsoo
“bisakah aku bertemu dengan Han Bongmun”

“apa anda sudah membuat janji..”

“belum, tapi bilang saja, joonsoo halmoni ingin menemuinya” sesaat bongsun keluar dari perusahaan menemui halmoni

“terima kasih sudah datang menemuiku
Bagaiman kabar anda, lama sudah tidak berjumpa” sapa bongmun

“aku kesini hanya ingin memberikan ini” halmoni memberikan sebuah kertas. Sesaat mereka duduk bersama, expresi bongmun terlihat sangat sedih usai membaca kertas diagnosa joonsoo

“bagaimana, kondisinya sekarang, aku juga sangat merindukannya tapi pasti dia pasti tidak ingin menemuiku, apa yang harus kulakukan, kenapa aku tidak bisa melakukan apapun untuk anakku sendiri, ayah macam apa ini”

“pasti dia juga merindukanmu, tapi jika kau hanya berdiam diri, itu tidak akan menyelesaikan masalah”

“aku masih sangat berdosa pada Joonsoo, entah apa lagi yang harus aku lakukan”

“bongmun-ah.. aku hanya berharap, jika kali ini kau harus, menemuinya apapun yang terjadi, temuilah dia, karena dia akan sangat membutuhkanmu”

“tapi apa yang harus aku katakan didepannya, aku benar-benar tidak sanggup menghadap kenyataan ini”

“bongmun, aku akan membatumu bicara padanya”

“terima kasih ibu mertua”

Saat jam istirahat mereka pun makan bersama di kantin, dan tak seperti biasa sudah banyak siswa yang memperhatikan ketiga orang tersebut. Jinhee pun memperhatikan sikap makan Joonsoo yang makin hari makin aneh
“Joonsoo-ya, apa gangguan pencernaanmu begitu parah, sehingga kau selalu makan-makanan yang lembut dan lembek” Joonsoo dan chansoo terdiam mendengar pertanyaan Jinhee, Joonsoo pun menelan ludahnya kasar

“ah.. aku”

“kenapa tidak, bukankah, makanan ini juga layak makan” Chansoo pun mengambil bubur di mangkuk makan Joonsoo

“kya”saat mencoba makanan Joonsoo, chansoo pun merubah expresinya

“euhm,... enak juga, kalau begitu aku juga mau makan ini, menelannya tidak perlu bersusahpayah”

“biar aku coba..”

“hentikan.. aku juga ingin makan seperti kalian, kalian jangan mengganggu makanku, apa kalian tahu aku merasa lapar tiap jam tapi tidak bisa makan apapun”

“kenapa tidak..” Joonsoo pun terdiam

“Joonsoo, ingin membentuk badannya bukan, jadi dia menjalani diet sekarang,bukan begitu Joonsoo-ssi” bela chansoo seraya memeluk Joonsoo

“ne.. aku sedang diet”

“diet, lihat tubuhmu sekarang, kau begitu kurus, kau seperti boyband awal debut begitu kecil dan kurus”

“ah.. aku benar, tapi mereka akan mempunyai bentuk tubuh yang sexy nantinya, bukan begitu”

“kya, kau ini percaya diri sekali” mereka pun tertawa bersama, sesaat daehye melihat kebersamaan mereka, dan merasa iri dengan kedekatan mereka
Saat kekamar mandi tiba-tiba Jinhee pun dihampiri oleh daehye

“apa kau senang berada ditengah-tengah mereka” Jinhee hanya diam

“aku bicara padamu Go Jinhee”

“aku tidak ingin mencari masalah dengan siapapun”

“kya, wanita jalang..!!” Jinhee pun membanting tangannya di meja depan kaca

“apa yang kau katakan”

“kau, wanita jalang”

“heuh.. apa kau ingin mencari masalah denganku”

“kau yang terlebih dahulu mencari masalah”

“hentikan, dan pergilah, maka aku akan memaafkanmu”

“aku tak perlu minta maaf pada wanita sepertimu”

“siapa yang wanita jalang sebernarnya, bagaimana dengan seorang yeoja yang tidur dengan gururnya demi nilai yang tinggi, Kang Daehye”
PLAAKK, daehye, pun menampar Jinhee

“hana, kemudian bagaiamana, dengan orang menjatuhkan temannya demi kepentingan sendiri, hingga orang itu bunuh diri”

“neo..” Plakkk Daehye menapar lagi pipi Jinhee

“deul.. apa lagi ya..”

“neo..”daehye  pun menjambak rambut Jinhee

“ahhhkk....” jinhee pun menjambak rambut daehye

“aghhkk..” dan mereka pun bertengkar, hingga beberapa siswa datang untuk melihat, bukan untuk mendamaikan mereka malah merekam kejadian itu lewat ponselnya

“woah...”

“kya, kau wanita jalang...!!”

“kau penjilat, pembunuh..!!” sesaat Joonsoo dan chansoo datang, mereka memisah dan melerai,

“kya, hentikan, apa yang kalian lakukan..”

“jinhee, kumohon kendalikan dirimu, kau tak boleh seperti ini” tanpa sengaja Dahye menendang perut Joonsoo
BUGH..

“agh..” sesaat Joonsoo merasa sakit yang amat sangat, dan sesaat terkulai lemas dan jatuh pingsan

“Joon-ah..”

“Joonsoo-ya..” chansoo pun membawa Joonsoo keruang perawatan
Daehye dan Jinhee pun masuk keruang guru
“apa yang kalian pikir, kenapa kalian beretengkar disekolah, apa kalian lupa dengan peraturannya.. EOH...!!!”

“ne, kami masih ingat”

“lalu,kenapa kalian, kenapa,,”

“sam, wanita jalang ini yang mulai”

“heuh.. sam bagaimana, jika kita lihat cctv yang ada, untuk melihat yang sebenarnya”
Mereka pun melihat rekaman cctv yang terpasang, dan mereka pun melihat kejadian sebenarnya

“Kang dahye, temui aku sepulang sekolah”

“sam”

“jinhee, keluarlah, bersihkan dirimu”

“ne, khansahamnida” Jinhee pun keluar kantor dan segera menuju ruang perawatan, dia melihat Chansoo masih menunggu Joonsoo

“chansoo, bagaimana Joonsoo”

“entahlah”

“bagaimana dia bisa pingsan”

“a... ah.. bukankah dahye, pernah ikut hapkido, mungkin tendangan cukup kuat”

“ah.. lihatlah bocah ini begitu lemah, aku khawatir jika melepasnya sendirian”

“jinhee”

“ehm, bagaimana, jika ada seseorang yang sebenarnya menyembunyikan sesuatu darimu, dan sesuatu itu sangat menyakitkan”

“terserahlah, dia ingin menyembunyikan apapun, asalakan dia punya alasan yang tepat aku akan menerimanya”

“Jinhee.. apa kau menanggap ucapanku tadi pagi sebagai lelucon”

“chansoo..” sesaat Joonsoo tersadar

“joon-ah..”

“Joonsoo” Joonsoo kemudian memaksakan dirinya untuk duduk dan melihat sekeliling

“apa yang kalian berdua lakukan”

“joon-ah, kau membuat aku khawatir saja, kenapa kau tiba-tiba pingsan”

“eh... tendangan dahye, cukup membuatku tidak bisa bernapas, dan ternyata, aku sudah disini”

“kau harus, jaga kondisimu lebih baik sekarang, kau terlihat sangat lemah sebagai seorang pria”

“heuh.. terima kasih sudah membawaku kemari chansoo”

Flashback On
Saat mendengar Jinhee dan dahye berkelahi Joonsoo pun berlari, namun, sesaat perutnya sangat amat sakit dia pun menahan sakitnya,
“aaggghhh,,,” chansoo yang melihat Joonsoo seperti itu segera menghampiri Joonsoo

“Joonsoo kwaenjana”

“chansoo, cepat pisahkan Jinhee dan dahye, aku takut jika dahye melukai Jinhee nantinya, aku tidak apa-apa cepat kesana”

“Joonsoo-ya” mereka pun sampai dan melihat perkelahian Jinhee dan dahye, mereka segera memisahkan namun dahye tak sengaja menedang perut Joonsoo hingga pingsan
Chansoo kemudian lari membawa Joonsoo

“Joonsoo-ya bertahanlah..”

“chansoo.. gu..ma..wo..” ujar Joonsoo kemudian jatuh pingsan
Flasback off

Chansoo duduk disebuah pojok bis, tanpa terasa airmatanya jatuh, mengingat kondisi joonsoo yang makin parah, namun ia tak bisa menyangkal perasaannya pada Jinhee

Flashback on
Joonsoo pun direbahkan keranajang setelah diberi obat, sesaat ia pun tersadar
“chansoo-ya..”

“joonsoo”

“aku ingin bicara, padamu”

“ne,, marhaebwa”

“neo, jinhee joahnya”

“joonsoo-ya.. kau bicara apa”

“aku senang ketika ini adalah kebenaran, setidaknya, Jinhee sudah  memiliki teman ketika aku pergi”

“mwo, apa yang kau bicarakan”

“dulu kami beritga, namun teman kami jungsil mengetahui jika aku menyukai Jinhee,kami menyembunyikan rahasia itu,hingga jungsil bunuh diri karena difitnah
Saat itu, jinhee sangat terpukul dan sedih selama berbulan-bulan, kami merasa kehilangan Jungsil, aku sendiri sedih melihat Jinhee seperti itu, aku seperti ingin mati ketika melihatnya bersedih, aku sangat takut jika hal itu terulang
Tapi kini aku sedikit bersyukur karenamu, saudara tiriku, katakan jika kau mencintainya, kau harus memberanikan dirimu, jangan jadi pengecut sepertiku”

“Joonsoo, kita akan bersama-sama selalu, kau tidak akan pergi, kau akan tetap disini, bersamaku dan Jinhee”

“chansoo, katakan cintamu pada Jinhee, dan berikan aku kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku pada Jinhee sebelum aku meninggal nanti”

“kumohon, joonsoo, jangan bicara seperti itu”

“sangat sakit, bolehkan  aku tidur, ini sangat sakit..” Chansoo pun menangis melihat Kondisi Joonsoo

Flashback off
Chansoo hanya bisa menangis mengingat kejadian itu
Joonsoo berjalan masuk kerumahnya sesaat ia melihat sebuah mobil mewah, dan dua pasang sepatu yang asing baginya, ia pun masuk rumah, dan disambut oleh ibu chansoo

“joonsoo-ya kau sudah tiba” ia pun melihat sekeliling dan melihat ayahnya

“joonsoo-ya, kau sudah..
Joonsoo, halmoni..”

“aku merasa tidak enak badan, aku akan minum obat dan tidur dikamar saja”

“Joonsoo” Halmoninya pun menyusul

“Joonsoo, makanlah bersama kami, bukankah kau menginginkan ini nak”

“tapi, kondisiku sedang tidak baik, apalagi jika aku harus makan bersama mereka, aku takut, kondisiku akan mengganggu nafsu makan mereka,
Tidak apa jika kalian ingin makan duluan, aku akan beristirahat dan permisi”

“Joonsoo..” ibu chansoo pun mendekati halmoni dan mengelus bahu halmoni

“halmoni, bagaiman lagi ini,
Bagaimana kami harus merangkul Joonsoo, agar dia mau bersama kami” mereka pun menangis bersama. Sedang kan joonsoo menangis dibalik pintu seraya memegangi perutnya yang makin nyeri
“eheeueueuehueh... mianhae...”

Setelah sampai dikamarnya Jinhee pun membongkar tasnya dan membuka surat yang ia dapat tadi pagi

‘Jinhee anyeong,
Ini ketiga kalinya aku mengirim surat, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu sekarang, namun, kau tak pernah merespons atau menjawab suratku, sebernarnya aku sedih
Jinhee-ya, aku ingin mengatakan padamu bahwa sebernarnya saat ini kondisiku sedang sangat buruk, sampai-sampai, aku tidak tahu sampai kapan umurku saat ini
Jinhee-ya, karena itu aku ingin bertemu denganmu, untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, kau yang tentukan diman kita bertemu, kau bisa menaruh surat balasan di taman sekolah, di bawah pohon maple, kukira sampai disini, kondisiku tidak memungkinkan untuk menulis terlalu panjang lagi
Anyeong’

“baikalah jika itu maumu, kau akan mengungkap jati dirimu akhirnya, tapi aku..” Jinhee pun mengambil sebuah kertas dan menulis balasan untuknya

‘anyeong, penulis rahasia
Aku sedih ketika mendengar kondisimu, aku juga sudah menulis jawabannya sebernarnya tapi, aku ragu jika kau sungguh-sungguh, tapi suratmu kali ini entah membuatku percaya, kuharap kau benar-benar tidak bohong
Baiklah, jika kau ingin kita bertemu, bagaimana jika 8.pm KST di sungai Han, malam ini, bagaiamana, aku akan menunggumu OK’

“ok” Jinhee pun melihat kearah jendela Joonsoo yang menyala namun Joonsoo tak terlihat
“dimana dia” sesaat Jinhee naik keatas balkon dan tentu saja benar Joonsoo berada di balkon dia merebahkan tubuhnya dan menatap langit, Jinhee pun memandangi Joonsoo

“apa yang kau pikirkan” joonsoo pun kemudian melihat kearah Jinhee

“kondisimu sedang tidak baik,kenapa kau di luar, bagaimana jika kau nanti sakit”

“tenang saja, aku tidak apa-apa..”sesaat halmoni datang, dan menghampiri Joonsoo

“Joonsoo, ayahmu ingin pulang, dia ingin..”

“ya, bilang saja hati-hati, dan maaf karena aku tidak bisa menemuinya”

“apa yang mereka bicarakan, ah lebih baik kau masuk” kemudian tanpa disadari mereka masuk kerumahnya

Paginya saat keluar rumah, Jinhee bertemu dengan Joonsoo yang juga keluar secara bersamaan
“Joon-ah..”

“ehm.. kajja”

“joon-ah..”

“waeyo...”

“ada yang ingin kubicarakan”

“marhaebwa”

“ehm... engh,,
Nanti saja di sekolah, aku jadi lupa yang ingin kukatakan
Kajja,” Jinhee pun menarik tubuh Joonsoo

“kya, berapa beratmu sekarang kau terlihat kurus, dan pipimu lebih tirus dari yang lalu”

“kya.. kya..kya keumanhae,
Kau bicara seperti itu karena kau makin gemuk”

“KYA...!!”
Sesampainya disekolah Jinhee berlari menuju loker namun sesuatu yang ia cari tidak ada
“apa yang kau cari”

“eoh.. ani.. amuguto anya..
Geunyang.. euh.. sesuatu yang bisa dibilang penting, tapi tidak terlalu penting
Aaahh.. terserahlah..” Jinhee pun pergi menuju kelasnya, sesaat ia bertemu dahye didepan koridor kelas, ia pun berjalan seolah olah tak ada masalah, namun dahye menarik tangannya

“Jinhee”

“lepas, apa kau tidak lelah selalu menggangguku” Joonsoo yang melihat itu lantas menghampiri mereka

“neo..”

“Kya.. dahye,lepaskan tangan Jinhee, apa kau ingin diskors.. lagi..” dahye pun terdiam

“ini kedua kalinya aku berurusan dengan kalian, pergi dari sekolah ini, atau akan kubuat hari hari kalian disini seperti di neraka, hingga kalian akan melakukan hal yang sama, seperti teman kalian” Jinhee tak dapat menahan amarahnya dan menarik tangan Dahye kemudia memutarnya kebelakang hingga dahye terkunci

“aakkkhh.. KYA..” beberapa siswa pun melihat kejadian itu

“aku bisa mematahkan leher kecilmu dengan mudah, dan meroberk mulutmu yang seperti ular itu, tapi menanggapimu adalah sebuah kejijikan bagiku, dan aku akan sangat rugi jika harus terus menerus berada didekatmu”

“kya, Go Jinhee lepaskan aku.. AKKHHH”

“heuh.. sudah kubilang dari awal, hentikan sikapmu dan pergi tapi kau selalu saja..”

“Jinhee, lepaskan dia” relai Joonsoo, seraya melepas tahanan tangan Jinhee, chansoo yang melihat itu

“akkhh.. kalian,,”

“aku selalu diam dan menjaganya, tapi jika kau terus menerus seperti ini, jangan salahkan aku jika bukti itu, akan sampai kekomite sekolah” ancam Joonsoo tanpa sadar tangannya menggenggam tangan Jinhee

“saat ini bisa saja aku mengirim bukti itu, tapi dalam hitungan sepuluh, jika kau tidak menyinkarkan wajahmu dari kami
“hana,...”Joonsoo bejalan mendekati Dahye

 “ddul..”

“cih, kya.. jangan mendekat eoh!!”

“ set..” dahye pun pergi dengan perasaan malu, para siswa pun menertawai dahye, Joonsoo dan chansoo menatap kearah Jinhee yang masih terlihat marah
Jam makan siang pun tiba, mereka pun makan siang bersama

“kya, Joonsoo kau keren tadi”ledek chansoo seraya merangkul leher joonsoo

“kya.. kya.. kya.. keumanhae..”

“ah, apa kalian nanti malam ada urusan”

“mwo/mwo..”jawab Joonsoo dan Jinhee bersamaan, membuat chansoo agak merasa geli

“nanti malam..” mereka terlihat berpikir

“ne../nanti malam aku..” jawab mereka kembali bersamaan”

“wowowow.. ada apa ini..”

“nanti malam, aku harus menemani halmoniku untuk pergi, sembahyang dikuil”

“lalu kau Jinhee”

“aku..ah,, menemani eommaku belanja, kudengar ada diskon besar-besaran..”

“ah, sayang sekali, aku sangat ingin mengajak kalian pergi malam ini”

“lain kali saja eoh..
Ayo makan” mereka pun makan santapan mereka
Setelah pulang sekolah, para siswa pun berjalan menuju keluar
“kya, Jinhee, mau pulang bersama, kajja”

“aniyeo, aku harus pergi kesuatu tempat”

“kemana..
Boleh aku ikut”

“ani.. kau pulanglah dulu
Anyeong” Jinhee pun berlari meninggalkan chansoo.
Jinhee pun sampai, ketaman dibukit tak jauh dari sekolah, ia pun mencari sebuah pohon maple, Jinhee pun mendekati pohon maple yang rindang dan ada sebuah tempat duduk

“apa ini pohon maple yang dimagsud” ia pun menaruh suratnya diatas bangku dan kemudian pergi. Tanpa disadari Joonsoo duduk dibalik pohon maple sambil tertidur

Malamnya jinhee bersiap untuk pergi, ia pun berjalan keluar dari kamarnya
“kau mau pergi kemana” tanya ibu Jinhee

“aku akan pergi menemui seseorang sebentar”

“apa itu namjachingumu”

“eoh,, aniyeo,  tentu bukan
Aku pergi dulu..” Jinhee pun pergi dan keluar rumah
Sedangkan Joonsoo juga bersiap untuk pergi, namun ia merasa kondisinya malam itu tidak mendukung, ia pun menopang badannya yang terasa lemas, dan sakit yang amat sangat
“kumohon jangan sekarang...
Arrgghh.... ah... hugh..” tak lama Joonsoo pun jatuh pingsan

Jinhee pun duduk di taman dekat sungai Han, dan menunggu penulis surat itu, hampir 2 jam lamanya dia menunggu namun Jinhee hanya melihat orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing
“huft.. aku tahu pasti dia hanya mengerjaiku..
Aku harusnya tidak datang, kenapa aku bodoh sekali mau datang, ahhh, menyebalkan”
CRIK.. suatu kilapan cahaya menyilaukan mata Jinhee, yang ternyata adalah chansoo yang sedang memotret
“jinhee”

“chansoo, apa yang kau..”

“kenapa kau disini”

“aehmm na... naneun..”

“eungh.. bukankah tadi kau bilang mau menemani eomamu berbelanja,tapi..”

“geugeon..
Aku bohong”

“mwo..”
“aku bohong padamu, sebenarnya aku ingin menemui seseorang disini, tapi selama 2 jam aku menunggu ternyata, dia tidak datang”

“nugu.. nuguya gidaryotji..”

“ah.. aku tidak bisa bilang padamu sekarang, yang jelas, mungkin dia orang yang ingin mengerjaiku, atau mungkin dia tidak membaca suratku..”

“pyeonji..”

“aaahahahahh..  sudah jangan dibahas, lagi aku pulang dulu..” chansoo pun memegang tangan Jinhee yang akan pergi

“tunggu jangan pulang dulu, setidaknya kau sudah disini maukah kau temani aku, untuk malam ini”

“mwo..”

“bukan apa-apa, aku ingin kau bersamaku untuk malam ini”

“kya chansoo..”

“kau jangan berpikir buruk, bagaimana jika malam ini kita kencan”

“kencan..
Apa aku tidak salah dengar”

“aniyeo.. kau tidak salah dengar.
Baiklah ayo kita berfoto, selca..
Hana.. deul,., seit..” crik mereka pun berfoto bersama, tak lama mereka pun layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan, makan ice Cream dan bersantai dipinggiran sungai Han, mereka pun bersenang senang, bersama. Dan tanpa disadari, Joonsoo berada disana dan melihat mereka berdua bersama, menyakitkan memang baginya namun, Joonsoo harus mulai belajar dari itu
Joonsoo hanya menarik nafas berat, lalu kemudian pergi lagi
Chansoo pun mengantar Jinhee pulang hingga sampai kerumahnya
“jinhee-ya terima kasih untuk malam ini”

“harusnya, aku yang berterima kasih karena jika tidak ada kau mungkin aku akan merasa sangat kesal, dan ah,, sudahlah..”

“tidurlah.. aku pulang dulu..”

“ne..” chansoo pun berbalik kearah belakang dan melihat rumah Joonsoo

“ah.. aku lupa memberitahumu, itu rumah joonsoo, kami bertentangga..”

“beruntung sekali kalian bisa bertentangga.. jadi jika ada apa-apa, bisa.. yah..”

“ne.. hati hati...”

Tanpa disangka, joonsoo mendengar percakapan mereka dari balik gerbangnya, neneknya pun melihat Joonsoo dari balik jendela merasa sedih dengan hidup yang dialami Joonsoo
Paginya jinhee dan Joonsoo berjalan di koridor sekolah, Jinhee melihat Joonsoo sangat pucat, dan terlihat tidak sehat
“Joonsoo, apa kau baik-baik saja”

“ne, aku hanya sedikit demam, tak masalah..”

“benarkah, apa kau sudah pergi kedokter”

“ne.. kau tak perlu khawatir aku baik-baik saja”

“Joonsoo, aku tak ingin aku kenapa-kenapa”

“sudahlah urus saja hidupmu sendiri, aku tidak apa-apa”

“Joon-ah..”

“apa aku berkata kasar tadi, hah.. mianhae..”

“ne..
Ah.. Joon-ah, apa kau pernah mengalami jatuh cinta”

“sarangimotae”

“ne..”

“ehm,, tentu.. aku pernah mengalaminya”

“eh.. mwo.. nuguya,,
Dengan siapa kau jatuh cinta” Joonsoo terdiam dan menatap Jinhee

“ red velvet irene”

“KYA..!!
            Aku serius..”

            “memangnya kenapa, kau bertanya seperti itu”

          Aniyeo, bukan karena apa-apa, tapi, ada sesuatu yang mengganjal dihatiku dan kupikir aku merasa jatuh cinta”

“kau jatuh cinta dengan—“ kring bel masuk berbunyi dan mereka berlari untuk segera kekelas
Hari hari berjalan seperti biasa, dan tak ada yang berubah, namun kini kedekatan Chansoo dan Jinhee makin dekat dan terkadang mengumbar kemesraan mereka, meski sakit melihatnya namun Joonsoo selalu menerima keadaan tersebut.
Pada suatu hari Jinhee kembali menerima surat dilokernya, dia mengambil surat itu dan melihatnya seraya mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu, kemudian membuangnya ditong sampah, hal itu dilihat oleh chansoo
“jinhee apa yang kau buang”

“surat sialan itu ada lagi, mungkin penulis itu pikir aku bodoh, hingga ingin menerimanya, huh menyebalkan”

“tapi, mungkin surat itu jawabannya”

“magsudmu..”

“mungkin, itu adalah jawaban kenapa dia tidak datang malam itu”

“aku tidak peduli alasan apapun chansoo, terserah, aku sekarang ingin hal lebih nyata, bukan harapan kosong dari surat itu”

“Jinhee”

“aku ingin bicara padamu”

“marhaebwa..”

“bisakah.. bisakah.. eungh..
Bisakah kita menjadi sepasang kekasih sekarang”

“chansoo...”

“kau boleh tidak menjawabnya sekarang aku akan selalu menunggumu” Jinhee hanya terdiam
Jinhee pun memikirkan pernyataan chansoo saat diperjalanan, dan jinhee memutuskan untuk pergi ditaman tempat dia menaruh surat balasan kemarin, setelah sampai ia pun duduk dan mulai berpikir, sesaat Jinhee mendengar suara, dan melihatnya ternyata joonso yang sedang duduk bersandar dibalik pohon
“Joon-ah..”

“Jinhee”

“apa yang kau lakukan disini”

“aku memang sering kemari”

“mwo..”

“kau sendiri”

“itu karena, kemarin aku kemari dan melihat ini tempat yang cukup nyaman, jadi aku kemari, apa yang kau lakukan”

“aku hanya ingin ketenangan, dan melihat pemandangan seoul” jinhee duduk disamping Joonsoo dan juga menikmati pemandangan
“huft.. ternyata ini tempat yang nyaman, kenapa kau tidak memberitahuku ada tempat seperti ini”

“aku juga belum lama, mengetahui tempat ini, aku direkomdasikan oleh teman saat itu bahwa tempat ini adalah tempat yang nyaman”

“chingu.. nuguya, kenapa kau memiliki  banyak rahasia dariku”

“ apa kau marah jika aku memiliki banyak rahasia”

“aniyeo, keunyang.. aku merasa aku bukanlah orang terdekatmu jika beberapa hal darimu aku tidak tahu”

“apa kau ingin, mengetahuinya”

“ehm... jika kau mau memberitahunya, aku mau mendengarnya”

“ne, aku akan mencari waktu yang tepat” ujar Joonsoo seraya merebahkan tubuhnya bersandar pada pohon

“apa, kau masih menerima surat dari orang itu”

“ehm.. tadi aku mendapatkannya, tapi aku membuangnya..” Joonsoo pun membuka matanya

“aku hanya tidak terima, dia membohongiku, dia memintaku untuk bertemu, tapi dia sendiri yang mendustainya”

“kasian sekali”

“kya, harusnya disaat seperti ini kau menghiburku”

“apa yang kau mau,,”

“dengarkan aku menyanyi, dan luruskan kakimu agar aku bisa tidur dikakimu, aku lelah seharian ini”Jinhee pun menyanyikan sebuah lagu dan mereka berdua menimati lagu itu
Keesokan harinya, Jinhee kembali menemukan surat, dia hendak membuangnya namun ia pun mengambilnya lalu membacanya

‘Jinhee anyeong
Apa kau sudah membaca suratku kemarin, kuharap kau memaafkanku, seharusnya kau sudah memaafkan, karena kau sudah tahu aku sekarang, kudengar kau pandai menyanyi, jika kita masih punya kesempatan kuharap  kau bisa menyanyikan sebuah lagu untukku, meski lagu itu akan jadi yang terakhir kalinya bagimu mendengar suaramu, Jinhee bagaimana dengan perasaanmu sekarang sudah mengetahuiku, namaku dan diriku, kau pasti kaget bukan, ini mungkin surat terakhir yang bisa kuberi padamu, Jinhee aku merindukanmu dan ingin bicara sesuatu padamu, pulang sekolah nanti kita bertemu diatap sekolah, aku ingin mendengar jawabanmu disana’
Jinhee sangat shock membaca suratnya kali ini
“mwo, jadi dia...” jinhee pun berlari menuju tong sampah tempat  ia membuang suratnya kemarin, ia pun membongkar sampah yang ada disana, sampai beberapa siswa melihat tingkah aneh Jinhee
“eodinya.. pyeonji-ga eoditji..” Jinhee mencoba membongkar namun surat tersebut sudah tidak ada, ia pun mulai putus asa

“apa yang ia tulis disurat yang kubuang kemarin” kelas pun dimulai namun jinhee terlihat cemas dan menunggu waktu

“huft cepatlah...” dan bel pulang pun berbunyi, para siswa pun membubarkan diri, sesaat guru menugaskan Jinhee untuk membawakan buku tugas yang dikumpul. Jinhee pun tak dapat menolak,tapi dengan cepat ia segera membawanya kekantor, setelah keluar kantor Jinhee pun bertemu dengan chansoo

“jinhee, kenapa dengan dirimu, kenapa kau terlihat buru-buru”

“hari ini aku akan memastikan sesuatu, jadi tolong permisi sebentar, jika urusannya sudah jelas dan selesai akan kuselesaikan urusanku denganmu,,”Jinhee pun berlari menuju balkon sekolah, saat ia sampai ia pun berjalan mencari seseorang, dan benar saja kali ini, ada namja yang berdiri menghadap arah lain didepannya

“aku sudah datang, sekarang kau bisa bicara padaku” saat namja itu berbalik arah, betapa terkejutnya Jinhee ternyata namja itu, namja yang sering mengirim surat padanya adalah Joonsoo sahabatnya sendiri

“ahah... Joon-ah.. neo..”

“keuare.. ini aku, Joonsoo temanmu, dan juga orang yang telah mengirim surat padamu selama ini”

“mwo.. bagaiman kau..”

“jawabannya ada disini” Joonsoo pun memberikan surat yang telah jinhee buang dan belum sempat ia baca, Jinhee pun mengambil kasar dan membuka serta membaca surat itu

“Jinhee-ya anyeong
Bagaimana pagimu kali ini, apa kau sedang kesal karena semalam aku tidak datang, maaf tiba-tiba kondisiku memburuk, hingga aku terlambat menemuimu malam itu

(flashback
Joonsoo bangun dari pingsanya menemukan neneknya, kemudia ia bergegas menuju sungai han namun ia menemukan Jinhee dan Chansoo sedang bersenang-senang)

Tapi aku sedikit lega karena kau bertemu dengan chansoo, dia adalah teman terbaiku sekaligus saudara tiriku, yang seharusnya aku membencinya
(flashnback
Pertemuan Joonsoo dan chansoo awal pertama dikelas saat chansoo menjadi siswa baru dan saat ia menemukan ayahnya bersama chansoo dan ibunya makan ditempat joonsoo bekerja paruh waktu)

 Tapi dia membuatku harus menyukainya demi ayahku dan kau, aku tahu dia mencintaimu, begitu pula chansoo tahu jika sebenarnya aku juga mencintaimu, hingga aku memohon padanya untuk mendekatimu lebih dekat dan membiarkan aku untuk jadi temanmu, kau tahu itu menyakitkan,tapi aku harus melakukannya demi kau Jinhee
Kau sudah tahu semuanya sekarang, jadi aku minta maaf atas semua rahasia ini, dan aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu” Joonsoo pun mengatakan hal yang sama seperti yang dibaca Jinhee, jinhee pun tak kuasa menahan airmatanya

“aheuehueueuhuh... aeuhheueheuehueh,,,
Kenapa kau melukan ini”

“aku bukan chansoo yang bisa mengatakan perasaan ini secara terus terang, aku hanya seoarang joonsoo yang pengecut, yang tidak bisa mengatakan perasaannya sendiri pada orang yang ia cinta, hingga lewat sebuah surat, aku bisa mengungkapkannya”

“tapi kenapa”

“kupikir saat awal pertama kali kau membaca surat itu, kau bisa membaca tulisanku” Jinhee pun mengingat tentang tulisan tangan yang mirip
“ah, ini bukumu, gumawo...
Tapi kurasa aku familiar dengan tulisan itu” joonsoo terdiam

“benarkah, tentu bukankah kau sering mencontek tugasku”

“Kya.. kau ini,,”

“kajja, kita kelas”

“ah,, seulma..
Joonsoo, pasti kau hanya bercandakan.. ini semua hanya lelucon kan”

“tidak, ini adalah kenyataan, bukankah kau memintaku mengungkapkan rahasiaku padamu, inilah rahasiaku Go Jinhee”

“babbo.. babbo-ya..
Kenapa kau bisa melakukan ini padaku, kenapa kau,...
Aku.. aku membencinmu, AKU MEMBENCIMU HAN JOONSOO, JANGAN PERNAH TEMUI AKU LAGI” Jinhee pun berlari keluar, sesaat setelah Jinhee pergi Joonsoo merasakan sakit amat sangat perutnya, lebih sakit dari yang sebelumnya, hingga Joonsoo jatuh terduduk, pandangannya kini mulai kabur, dan perlahan menjadi gelap
Jinhee berlari dan duduk disalah satu anak tangga, ia pun menangis sejadi-jadinya

“ahahahaeueuh..haueheuheuehh....heuhaheuehueh...hueheuheaheuheuah, kenapa dia melakukan ini.. iiehehehuhheuehsushuehehuehhauheuh..
Joonsoo, kenapa kau tidak mengatakan secara langsung kau sangat menyakitiku dengan ini, ehueheuheuauheuhuhuehuahuhueh... aku membencimu Han Joonsoo..” diam-diam Chansoo berada dibawah dan mendengar tangisan Jinhee, saat hendak menghampirinya
“aku juga mencintaimu Joonsoo, tapi kenapa kau begini,... heheuheuehuehueh..ahuhehahaeuheuheuhaue...heheauhuaehueah...”chansoo sontak kaget mendengar hal itu, dan hatinya terasa sakit dan hancur

“ahahaehuhuauheuhauh... Joon-ah...
Heuheuhe,, baiklah, aku akan mendengar alasannya kali ini, dasar si bodoh Joonsoo” Jinhee pun berjalan menemui Joonsoo kembali namun ia tak melihat Joonsoo, namun ia kaget saat Joonsoo terkapar tak berdaya ia pun berlari untuk menghampiri joonsoo

“ah.. JOONSOO-YA..!!” teriakan Jinhee membuat chansoo penasaran dan segera berlari menghampiri Jinhee, saat sampai ia melihat Jinhee sudah memangku Joonsoo

“joonsoo-ya, bangunlah...
Joonsoo-ya kumohon sadarlah, apa yan terjadi padamu,
Joonsoo bicaralah,kumohon jangan bercanda lagi”

“Joonsoo” Chansoo menghampiri mereka lalu menggendong Joonsoo untuk dibawa kerumah sakit.
Setelah sampai dirumah sakit joonsoo pun mendapat perawatan, dan dipindahkan kuruang intensif untuk sementara. Tak berapa lama harmoninya datang bersama bongmun dan ibu chansoo

“bagaimana kondisi joonsoo”

“kami juga belum tahu halmoni, joonsoo sedang diperiksaa oleh dokter”

“aigoo, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan cucuku”
Chansoo melihat jinhee hanya terdiam,
“aku ingin bicara” mereka pun keluar dan kesebuah taman dirumah sakit itu

“ apa sebenarnya hubungan kalian, apa benar kalian saudara tiri”

“joonsoo sudah memberitahu semua
Benar kami saudara tiri”

“mwo.. hah.. dan kalian merahasiakan ini dariku”

“dari awal kami ingin jujur, tapi kami menunggu waktu yang tepat”

“sekarang, magsud kalian begitu
Joonsoo sekarang dia sakit pun aku tidak tahu
Joonsoo menyimpan perasaan, aku juga tidak tahu
Bahkan kalian bersaudara tiri pun aku juga tahu
Orang macam apa aku ini”

“maaf untuk semuanya”

“joonsoo, sebenarnya dia sakit apa, dan separah apa”

“dokter mendiagnosa joonsoo mengalami kanker lambung, separah apa aku juga tidak tahu, tapi sekarang kondisinya sangat kritis, aku takut jika dia-“

“ mwoya..”

“aku tidak sanggup jika harus kehilangan  joonsoo”

“kya han chansoo, jaga mulutmu, jangan bicara omong kosong seperti itu”

“jinhee-ya, dia sangat mencintaimu, bahkan mengorbankan perasaannya demimu, dia lakukan agar dia tetap bisa mencintaimu”

“joonsoo akan bartahan, dia akan tetap hidup, dia tidak boleh pergi kemana-mana” Chansoo pun memeluk Jinhee yang menangis
“dia akan sembuh, dia tidak akan pergi, dia akan tetap bersama kita”

Jinhee berjalan menuju ruangan Joonsoo saat hendak masuk hatinya begitu sesak, setelah ia masuk ia melihat Joonsoo yang terbaring tak berdaya diranjang dengan banyak, alat medis yang terpasang ditubuhnya, Jinhee merasa miris melihat itu, ia pun menghapus kasar airmata nya, dan segera menghampiri halmoni yang tidur disamping ranjang Joonsoo

“halmoni” tak berapa lama halmoni terbangun

“jinhee”

“ne, halmoni istirahatlah, biar aku yang menjaga Joonsoo”

“ah.. ne.. gumawoyo..”

“ne..”setelah halmoni beranjak pergi untuk beristirahat, Jinhee duduk disamping rangjang Joonsoo, airmatanya tak terbendung lagi

“Joon-ah.. kenapa kau bisa begini, kenapa penyakit bodoh ini bisa ada dalam tubuhmu, dan kenapa kau tak mengatakannya padaku
Joonsoo kau harus bertahan, tetaplah bersamaku, kumohon kau jangan pergi, aku tidak ingin kau pergi tetaplah disini” Jinhee memegang tangan Joonsoo dan menempelkannya dipipinya

“Joonsoo, saranghae.. kaji marayo.. jebal geugon yeogi isseoyo”
Jinhee pun menjaga Joonsoo, hingaa tertidur, saat Joonsoo sadar, ia melihat Jinhee sedang tidur disisi ranjangnya, ia pun membelai rambut Jinhee
Saat jinhee terbangun ia sudah berada diranjang joonsoo dan saat ia mengelilingkan padangannya ia melihat joonsoo didepan jendela
“joonsoo,”  jinhee beranjak dan menghampiri joonsoo

“joonsoo, apa yang kau lakukan, kenapa kau..”

“kau terlihat sangat lelah, jadi aku memindahkanmu”

“geundae...”

“membiarkanmutidur seperti akan membuat lehermu cedera bukan”

“Joon-ah..”

“aku tidak apa-apa. Kenapa kalian begitu berlebihan, sudahlah, tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku akan baik-baik saja”
Jinhee pun memeluk Joonsoo dari belakang
“aku tak mau kehilanganmu, apapun itu, kumohon tetaplah tinggal”

“aku akan tetap bersamamu, kau tak usah khawatir..” mereka pun berpelukan

Jinhee berjalan malas menuju sekolahnya, ia pun melihat loker tempat biasa surat itu ditaruh, ia pun mengusap loker itu, tanpa terasa airmatanya jatuh dari pelupuk matanya, begitu pula dikelas, ia pun tak fokus oleh pelajaran yang ada dikepala dan hatinya saat ini hanya Joonsoo, chansoo pun melihat kondisi Jinhee pun ikut merasa sedih
Bahkan saat makan ia pun tak memakan makanannya, chansoo yang berusaha menyuapi hanya diabaikan saja
Chansoo pun mengikuti jinhee saat berjalan pulang, namun bukannya pulang kerumah ia justru kesebuah bukit dan duduk ditempat ia bersama joonsoo kungjungi, ia duduk dan bersandar dipohon maple itu sambil melihat sekeliling, pandangannya tertuju pada sebuah pohon bunga sakura yang akan berkembang
Chansoo miris melihat jinhee, ia pun tanpa terasa menitikan airmatanya

Seorang dokter memeriksa kondisi joonsoo dan perawat lainnya memberikan obat di infus joonsoo
“sementara ini yang bisa kami lakukan agar kau tidak terlalu kehilangan banyak energi, karena lambungmu sudah tidak dapat menerima makanan, jadi kau harus bertahan untuk ini, kami akan berusaha agar dapat melakukan operasi itu”

“uisanim..”

“bagaimana jika operasi itu gagal..”

“tidak, kita akan coba angkat lambungmu dan transplatsinya sudah siap”

“aku tidak mau operasi”

“joonsoo..”

“orang itu akan kehilangan organ tubuhnya, dan akan mati tersiksa sepertiku, aku tidak mau”

“pendonormu, adalah orang yang sudah koma terlalu lama, dan keluarganya menyetuji pernyataan bahwa pendonor itu akan merelakan tubuhnya didonorkan bagi siapa saja yang membutuhkan, dan sekarang, keluarganya sudah menyetujuinya”

“eopseoyo.. aku tidak mau, ada orang yang lebih membutuhkan disana, aku tidak mau mendonorkannya”

“joonsoo apa yang kau bicarakan cucuku, operasi ini dilakukan agar kau tetap bertahan hidup”

“aku akan tetap hidup halmoni, aku bisa menjalani ini semua, halmoni percaya padaku” tanpa disadari jinhee mendengar pembicaraan itu dari luar, saat ia hendak pergi karena tak kuasa mendengar itu, ia bertemu dengan ayah Joonsoo

“ajjushi.. anyeonghaseo..”salam jinhee seraya membungkukan badannya, tak berapa mereka duduk bersama

“bagaimana joonsoo, apa dia mulai membaik”

“mian, tapi aku juga kurang tahu itu, tapi aku berharap joonsoo bisa seperti dulu, yang tidak memiliki penyakit bodoh ini”

“ini semua kesalahanku” Jinhee menoleh kearah bongmun

“ajjushi..”

“jika aku mengatakan semuanya dari awal ini tidak akan terjadi
Joonsoo pasti dia tidak akan membenciku dan dia akan mendapat perawatan yang layak dari dulu, harusnya aku tidak meninggalkannya saat itu
Ayah macam apa aku ini, putraku sakit seperti ini tapi aku.. huheuehuheuehueh..”

“ajushi, tidak harus menyalahkan diri ajjusi karena sejak awal joonsoo memang tidak ingin memberitahu siapapun tentang penyakitnya, halmoni tahu karena joonsoo tidak bisa menyembunyikan kondisinya, tapi joonsoo masih menyembunyikan pada halmoni dan kami, dia tidak ingin merepotkan halmoni dan kami karena penyakitnya itu”

“joonsoo, dia beruntung mempunyai yeojachingu sepertimu”

“ahh,,,bukan aku bukan yeojachingu, aku hanya joonsoo chingu, tapi aku sangat mencintai joonsoo dan aku tidak tahu bagaimana perasaan joonsoo padaku sekarang”

“bukankah kalian sangat dekat sejak kecil”

“ne..”

“kurasa, kalian cocok” Jinhee pun tersenyum malu dengan perkataan  bongmun
Tak berapa lama mereka pun mengobrol seraya menuju ruangan Joonsoo
“kajja ajjushi” ajak Jinhee melihat bongmun menghentikan langkahnya

“dia tidak akan menerimaku..”
“ajjushi, apa salahnya jika kita mencoba”
Mereka pun berjalan menuju kamar, setelah mereka masuk kamar, bongmun tidak sanggup melihat tangan putranya banyak terpasang infus, bongmun tak kuasa menopang kakinya lagi

“hahahehheheueeehuehueu....
Anakku.. bagaimana ini bisa tejadi padamu.. heuehueuehe...”

“ajjushi.. kweanjana..”Bongmun pun menghampiri Joonsoo
“appa, sudah datang, maaf jika aku terlambat, aku tidak akan marah jika kau membenciku, aku tidak akan marah, dan appa berjanji, akan selalu disampingmu, tapi appa mohon kau harus sehat dan.. dan.. heuehueheuheh...”

“appa..” ujar joonsoo lirih, mereka segera mendekat

“joonsoo”

“joon-ah..”

“jinhee.. appa...” Joonsoo pun berusaha bangun

“joonsoo”

“appa, bogosipoyo..”

“ne... nado, nado bogosipta..”

“appa, mianhae.. karena aku selalu mengecewakanmu, aku tak pernah membuatmu bangga, aku hanya membuatmu kecewa, aku tak pernah membuatmu bahagia seperti yang chansoo dan ibunya lakukan selama ini
Mianhae appa...”

“anni.. ani.. kau yang terbaik, kaulah putraku yang terbaik, kau tak pernah membuatku kecewa, kau selalu membuatku bangga dengan sikap dewasamu selama ini”

“appa.. aku ingin berkunjung dimakam ibu bersama appa, ajjuma, dan chansoo”

“ne.. kita aku melakukannya bersama nak...”

Skip time, bongmun dan istrinya keluar dari mobil, kemudian chansoo dan joonsoo juga keluar menuju tempat ibu joonsoo disemayamkan

“Joonsoo, apa kau..”

“ani.. na kwaejana, aku bisa melakukannya sendiri..” mereka berjalan masuk kedalam dan memberi penghormatan

“hari ini adalah pertama kali kami datang bersama-sama, aku sangat merindukan hal ini, pergi bersama keluarga, maaf aku terlambat melakukan ini istriku, maaf..”

“gumawoyo.. kau telah melahirkan anak terbaik, terimakasih terlah menerima kami, maafkan aku telah menyakitimu, aku yang salah disini”

“eomma.. bogosipo.. na jeongmal bogosipo.. urineun.. eonjaega Hamkae isseoyo..
Na jeongmal bogosipo, urineun.. eonjaega..”sesaat tubuh joonsoo mendadak tertunduk, chansoo pun segera memegangnya

“Joonsoo kwaejana”

“ehm, na kwaejanayo, jeongmal kwaenjanayo..”

“apa kau yakin..”

“ehm, kau tak perlu khawatir”

“joonsoo, kau..”

“ne, ajuma na kwaenjanayo..”

“ayo kita pulang”

“tidak ayah, sebentar lagi kumohon,aku benar-benar merindukannya, aku ingin bicara sesuatu pada eomma, aku saat ini benar-benar merindukannya, tapi aku merasa ini akan segara berakhir karena, aku bermimpi bahwa aku, akan segera bertemu dengan eomma” mendengar itu chansoo dan ibunya sangat shock

“joonsoo-ah.. kau tidak akan pergi kemana-mana, kau akan tetap bersama kami, denganku, dengan appa, dengan ibuku yang akan menganggapmu sebagai putranya sendiri, dengan halmoni dan dengan Jinhee, apa kau tega meninggalkan kami..”

“chansoo-ya, aku sudah lama menahan rinduku dengan eommaku, kau pasti mengerti aku bukan” mereka pun terlihat menahan kesedihannya

Saat kembali kerumah sakit joonsoo duduk disebuah taman, desir angin bertiup menggiring dedaunan, Joonsoo pun menghirup dinginnya angin yang bertiup
Sesaat jinhee berjalan menghampiri Joonsoo, ia pun duduk disamping Joonsoo
“apa yang kau lakukan disini”

“hanya ingin menikmati udara diluar, diruangan sangat membosankan aku hampir mati karena bosan, dan..” Joonsoo melihat tangannya yang penuh dengan bekas infusan, jinhee pun menahan kesedihannya

“joonsoo-ya..”

“mian..”

“untuk apa..”

“untuk semuanya yang telah kuperbuat, kebohongan dan semuanya, maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang”

“aku sudah melupakan itu, semua manusia tidak akan pernah sempurna, tidak satupun manusia bisa luput dari itu semua, terutama tentang perasaan mereka terkadang, mereka membohongi perasaan mereka sendiri demi kepentingan diri sendiri”
“jinhee, aku jadi ingat jungsil, aku merasa bersalah padanya, karena aku banyak berbohong padanya, termasuk tentang..
Hah.. sudahlah, toh, aku akan segera menjelaskan semua padanya”

“joonsoo” mereka saling memandang, jinhee memegang erat tangan Joonsoo

“kau tidak akan pergi kemana-mana, kau akan tetap disini, jangan buat kami begini kumohon, kami tidak ingin kehilanganmu, kau harus bertahan
Aku akan mati jika kau tidak ada disampingku, aku tidak akan bisa bernafas jika kau tak berada disisiku, tetaplah disini kumohon
Bagaimana dengan hati ini yang sudah ada dirimu didalamnya, dan hanya dirimu jawaban dari semua keinginanku” Joonsoo pun membelai rambut Jinhee

“aku juga, hanya kau yang berada disini, dihatiku, tapi sebenarnya aku juga tak ingin seperti ini, aku juga masih ingin bersamamu, masih ingin divisimu, masih ingin mencintaimu dan aku tak bisa berbuat apa-apa saat ini
Tapi percayalah jinhee, aku akan dipertemukan olehmu suatu saat, di sebuah keabadian yang indah”

“aniyeo.. heueheuheh... aku tidak mau, akku hanya kau ingin kau, kau.. dan sekarang sampai selama-lamanya, tak berduli apapun joonsoo kumohon, jangan lakukan ini padaku” Joonsoo pun memeluk jinhee

“aniyeo, aku tidak akan pergi, aku akan tetap divisimu, kau jangan sedih, aku tidak ingin melihatmu bersedih” joonsoo melepas pelukannya dan mulia menyentuh wajah jinhee

“uljimarayo.. jangan tumpahkan airmtamu didepanku, kau tidak akan sanggup untuk melihatnya, aku sangat terluka melihatmu seperti ini jangan lakukan ini kumohon” Jinhee memegang erat tangan joonsoo, ia pun tak dapat membendung lagi derasnya airmata yang mengalir dipipinya

“joon-ah.. aku tidak ingin kehilanganmu, walau itu hanya mimpi, aku tidak akan bisa”

Skip time joonsoo kembali mendapat tusakan jarum infus ditangannya, dia pun sudah sangat susah untuk mendapatkan vena, hingga beberapa kali perawat menusuk tangannya, joonsoo hanya dapat menahan tusukan tersebut, jinhee yang menemaninya merasa sangat miris sesaat ia ingin pergi karena tidak tahan melihat joonsoo. Sesaat joonsoo menahan tangan jinhee mencegahnya untuk pergi
“tutup saja matamu, tapi jangan pergi tinggalkan aku” Jinhee pun tetap berada disamping Joonsoo hingga perawat itu pergi

“appo, mwo issoeyo”

“ani, lebih sakit saat aku melihatmu menangis”

“aku serius”

“aku juga, itu sudah tidak terasa lagi dibanding, ketika penyakit bodoh ini datang” Jinhee pun memeluk tangan Joonsoo

“aku, akan menemanimu disaat apapun, selalu bersamamu, dan tetaplah disisiku..”

“geundae.. kau bisa pergi sekarang”

“mwo.. Joonsoo”

“kau bisa pergi meninggalkan sekarang, pergilah dengan orang lain yang lebih mencintaimu”

“joon-ah.. neo michigo..”

“aku tak ingin kau, ada dihadapanku sekarang, ini sangat mudah bagimu, kau cukup pergi dan tak perlu kembali, kau tak perlu menemuiku apapun yang terjadi. Sekarang diluar sana kau dapat menemukan namja lain yang lebih baik dariku”

“ani, aku tahu kau tidak serius bukan, kau hanya..”

“ka.. karagu..!!”

“heh.. ne, na karaguyo..., tapi aku akan kembali untuk”

“apa kau tuli, aku bilang jangan pernah kembali”

“Joonsoo, apapun yang kau katakan saat ini, aku tidak peduli, aku akan selalu berjanji ada disisimu” Jinhee pun bergerak pergi meninggalkan joonsoo
Sedangkan joonsoo menitikan airmatanya, sesaat ia meraskan sakit yang amat sangat, ia pun mencoba memanggil perawat, namun matanya tak melihat secara jelas, ia pun mengerang kesakitan
“aggh... mianhae.. jinhee..” ujar joonsoo lirih sesaat pandangannya gelap,sesaat para perawat datang untuk menangani joonsoo

“kondisinya makin melemah, pantau”

“nadi dan pernafasan juga melemah”

“cepat pasang Electro Kardi grafi, dan jika perlu pasang juga nasoparingeal, atau oroparyngeal”

“ne, uisanim”

Jinhee berjalan keluar rumah sakit airmatanya tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mata jinhee, ia pun menghapus kasar airmatanya, ia kembali kerumahnya dan masuk
Sesaat ibunya datang menghampirinya
“jinhee kau pulang”

“ne.. aku pulang”

“bagaimana kondisi Joonsoo, apa ada perkembangan yang lebih baik”

“aku selalu berharap seperti itu”
“seharus disaat terakhir seperti ini, orang-orang yang dia cintai ada disisinya, setidaknya ketika Joonsoo sudah tidak..”

“ani.. joonsoo akan tetap bertahan, dia akan tetap hidup emma, dia sudah berjanji denganku, akan bertahan dan tetap hidup” Jinhee pun pergi untuk mandi dan masuk kamarnya, setelah itu dia duduk didepan meja belajar ia pun memandang keluar  melihat jendela kamar joonsoo, yang biasa ia melihat joonsoo, kini hanya ada kegelapan,
Jinhee pun mengingat semua kenangannya bersama Joonsoo, setiap joonsoo belajar dan ia mengganggunya, setiap ia berusaha memandang joonsoo dibalik jendela mereka, ketika Joonsoo selalu berada disampingnya untuk memberikan  bahunya untuk bersandar, baik ketika Jinhee lelah dan bersedih, ketika jinhee yang berada dalam masalah dan diperolok hanya Joonsoo yang ada saat itu untuk membelanya
Jinhee pun menangis mengingat itu semua
“joonsoo-ya..”

Jinhee pun ingin belajar memulai semuanya dari awal, namun kini ia hanya bisa diam, tanpa sepatah kata pun keluar dari dirinya dia pun kini tak peduli dengan sekitarnya lagi
Sampai chansoo pun tidak ia pedulikan, sesaat chansoo mengikutinya hingga tiba waktu istirahat saat jinhee duduk sendiri, chansoo datang dan duduk didepannya
“bogopta..”

“chansoo”

“kau seperti mayat hidup, bahkan matamu tak mau menatap manusia lagi”

“sepertinya aku kelelahan”

“kau harus banyak makan, akan banyak energi yang terkuras untuk kedepannya”

“chansoo..”

“mwo... ada apa katakanlah”

“ani.. tidak ada apa-apa”

“ehm..” mereka pun melanjutkan makannya, chansoo pun melihat jinhee sedikit sedih,
Flashback on

Dokter dan perawat memasang alat bantu pada joonsoo, chansoo dan keluarganya melihatnya sangat sedih
“aku tak tahan melihat ini
kapan ini semua akan berakhir, kapan joonsoo tidak merasakan penderitaan ini, kenapa harus joonsoo yang harus mengalami ini” ujar chansoo dengan perasaan yang kesal dan dan sedih

“untuk sementara Joonsoo harus menjalani perawatan ini, kondisinya makin kritis untuk saat ini, kami tidak menjamin harapan hidupnya akan panjang, kami berharap ia akan masih bertahan dalam waktu yang cukup lama, minima sampai akhir bulan ini”

“mwo..!!”
“kami juga sangat sedih mengatakan ini, tubuhnya kini tidak mampu menyerap obat yan kami berikan”

“uisanim, kumohon, selamatkan Joonsoo, kumohon aku akan melakukan apapun uisanim. Tolong selamatkan putraku”

“kami akan selalu berusaha tuan, kami akan berusaha”

“aigoo.. heuheuehuehh, joonsoo-ah...”

“huuuft.. heh..”chansoo hanya bisa terduduk lemas, tak terasa airmatanya jatuh dipipinya, ia pun menangis tak kuat lagi melihat kondisi joonsoo yang makin memperhatinkan

Flashback off

 sesaat handphone chansoo bergetar, ia segera menangkatnya
“ne, eoma..” chansoo terdiam, jinhee kemudian melihat chansoo intens

“keureom eodiseo.. bagaiman ini bisa terjadi..”

“chansoo, apa yang..”

“Joonsoo menghilang dari ruangannya, dia mengatakan pada ibuku untu pergi sebentar untuk menenangkan diri, eommaku sempat mencegah karena kondisinya saat ini sangat kritis, namun joonsoo tetap saja pergi”

“kritis..”

“euh.. ah...”

“chansoo katakan padaku bagaimana kondisi joonsoo sekarang..”

“jinhee...”

“kya, han chansoo, katakan padaku bagaimana KONDISI JOONSOO SEKARANG...!!!”
Chansoo hanya tertunduk

“chansoo aku bicara padamu” mata chansoo memerah menahan airmata

“dokter bilang, mungkin dia akan bisa bertahan sampai akhir bulan ini saja, itu saja adalah sebuah keajaiban, karena obat yang diberikan tidak dapat diterima oleh tubuh joonsoo, harapan hidupnya sangat kecil..”

“aniyeo.. neo keotjimalragu.. joonsoo sudah berjanji padaku dia akan bertahan, dia berjanji padaku dia..” Jinhee pun beranjak pergi dan berlari untuk mencari joonsoo, chansoo pun mengikuti jinhee
Setelah mereka sampai dirumah sakit, mereka melihat ibu chansoo dan ayahnya diluar kebingungan akan keberadaan joonsoo
“bagaimana joonsoo bisa pergi”

“dia bilang dia hanya akan ditaman depan rumah sakit, tapi setelah dokter ingin memeriksanya dan kami mencarinya dia tidak ada dimana-mana”

“lalu dia pergi kemana..”

“jinhee apa kau tahu joonsoo pergi kemana”

“entahlah.. banyak sekali kurasa tempat yang sering ia kunjungi”

“ayo kita berpencar mencarinya”

“apa dia membawa ponselnya”

“tidak, ini dia meninggalkannya diruangan” mereka pun berlari keluar berkeliling mencari joonsoo ketempat yang sering ia kunjungi dan terkadang bertanya pada warga sekitar, namun tak ada yang tahu keberadaan joonsoo, mereka hampir putus asa mencari joonsoo
“jinhee aku sudah datang dikedai Oh ajjuma, keswalayan saat tempat biasa ia berbelanja, dan aku juga sudah bertanya pada setiap orang  namun, tidak ada yang melihatnya” Jinhee tanpa sengaja melihat pohon sakura yang sedang mekar indah tertiup angin, ia pun mulai mengingat sesuatu
“jinhee , neo kweanjana..”

“pulanglah, sepertinya aku tahu dimana Joonsoo”

“ah.. keurae, kajja”

“ani... ani.. aku akan kesana sendiri”

“mwo..”

“ini hanya antara aku dan Joonsoo, tolong beri kami waktu”chansoo memegan bahu jinhee

“kau, harus membawanya pulang” chansoo pun kembali, airmata pun jatuh di pelupuk matanya menahan sakit hatinya. Jinhee berlari menuju bukit didekat sekolahnya, tempat dimana dia dan joonsoo pernah bersama, saat sampai perlahan langkahnya mendekati pohon maple, Jinhee pun melihat Joonsoo duduk bersandar dipohon itu, jinhee pun ikut duduk disamping joonsoo

“kau menemukanku”

“ehm..”

“bagaimana kau tahu aku disini”

“saat aku melihat bunga pohon sakura yang tertiup angin, aku jadi ingat suatu tempat yang sangat indah dan melambangkan sebuah keindahan dan cinta, pohon sakura yang indah dan cantik ketika bunganya tertiup angin, berada dekat dengan pohon maple yang ketika daunnya berguguran akan sangat indah, terima kasih telah menunjukan tempat yang indah bagiku” mereka saling memandang

“terima kasih, kau telah mengajarkan padaku banyak hal yang berarti, terima kasih telah menjadi orang yang selalu disampingku, terima kasih telah menjadi tempat ku bersandar disetiap aku membutuhkan bahu untuk bersandar, terima kasih telah memberikan hari-hari yang indah dan tak terlupakan, terima kasih.. heuheuehuh... kau telah hadir dalam hidupku... terima kasih kau.. heuehuehuh,, telah memberikanku harapan hidup setelah aku mengenalmu, terima kasih... kau telah.. hadir dalam hidupku dan mau mengisi hari-hariku, dan terima kasih kau mau menghiasi hatiku, dan terima kasih telah menjadi orang yang aku cintai.. han joonsoo” joonsoo memgang tangan jinhee

“saranghae.. jinhee aku sangat terlambat untuk mengatakan ini, aku adalah namja pengecut yang tidak bisa mengatakan perasaan ku yang sebenarnya padamu, harusnya aku tidak layak menjadi orang yang kau cintai, heuh..
Maafkan aku jinhee, tapi maukah kau menjadi kekasihku, walau ini adalah saat terakhirku untuk hidup dan bersamamu”jinhee memegang wajah joonsoo

“kau selamanya bersamaku joonsoo, selamanya”

“maaf, aku tidak bisa melakukan itu, aku hanya bisa melihatmu, tanpa bisa menyetuh wajahmu” wajah mereka saling mendekat satu sama lain, tak lama bibir mereka saling bersentuhan
Chu..
Tak lama dari itu joonsoo melepas tautannya, ia pun menghapus airmata jinhee

“jangan menangis lagi, kau telah berjanji tidak akan menangis lagi, itu yang kau katakan pada saat jungsil meninggal”

“kau juga berjanji kau tidak akan pergi kemana-mana, kau berjanji akan selalu disisiku”

“kau pernah bilang, bisakah aku menjadi anak nakal, seperti namja lainnya, kali ini aku akan menjadi pria yang tidak baik, dengan mengingkari janjiku”

“kau tidak bisa melakukan itu”

“kau apakah kau mau memaafkanku tentang ini”

“joon-ah..”

“kumohon maafkan aku..”

“aku akan memaafkanmu, asal kau bisa selalu disisiku joonsoo”

“ehmm.. ne jinhee-ya.. mianhae..”sesaat joonsoo melemas tubuhnya pun roboh dipelukan jinhee

“saranghae jinhee-ya..”joonsoo pun tak sadarkan diri dipelukan jinhee

“joonsoo-ah.. joonsoo-ah.. kau dapat mendengarku.. joon-ah..”
Skip time
Joonsoo terbaring dengan alat bantu ditubuhnya, orang-orang yang melihatnya merasa sedih dengan kondisi joonsoo sekarang, tubuhnya kini dipenuhi alat bantu kehidupan yang menopang jiwanya sekarang, semua orang menunggu diluar ruangan dengan derai airmata mengalir pipi mereka. Sesaat seorang dokter keluar dan mereka pun segera menghampirinya
“bagaimana, bagaimana dengan cucuku sekarang”

“nyonya kondisinya makin menurun, sel kankernya menyebar kebeberapa bagian vital, dan karena itu akan memperparah kondisinya, kami akan berbuat semampu kami, dan akan berusaha sekuat tenaga kami”

“hanya itu yang bisa kalian lakukan, eoh..”

“chansoo, tenangkan dirimu”

“kalian, harus bisa menyelamatkan joonsoo, apapun yang terjadi, joonsoo harus tetap hidup, dia akn tetap hidup”

“iya, tuan kami juga akan berusaha yang terbaik untuk joonsoo”

“joonsoo bisakah aku menemuinya, kumohon”

“sebernarnya jika melihat dari kondisinya, kami takut jika dia sudah tidak merespons, karena..”

“hanya sebentar, kumohon..”

“baiklah..” jinhee pun masuk kamar joonsoo dan menghampirinya, ia pun duduk disamping ranjang joonsoo

“Joon-ah, kau dapat mendengarku” Jinhee pun memegang erat tangan Joonsoo dan mengusapkannya dipipinya

“bagaimana ini bisa terjadi, Joonsoo, jika kau dapat mendengarku, kumohon buka matamu, joonsoo-ya, aku ingin mendengar suaramu, JOONSOO-AH…!!” Jinhee pun tak kuasa menahan airmatanya

“Joonsoo-ah.. ahahehaheauheuah..”
Jinhee pun berjalan lemas disebuah gereja dia pun duduk disalah satu kursi dan berlutut sambil berdoa

“Bapa, hari ini aku datang untuk memohon ampun atas segala dosa yang kuperbuat baik sengaja maupun tidak sengaja, aku mengakui dosaku terlalu banyak sehingga aku tak layak jika harus berhadapan dengan-Mu, tapi kali ini aku memohon padamu, aku mohon padamu, agar Joonsoo bisa tetap bersama-sama dengan kami, jangan ambil joonsoo kami, biarkan Joonsoo tetap hidup bersama kami, aku sangat mencintainya tolong jangan ambil nyawanya, biarkan dia tetap bersama kami, Bapa tolong berikan mukjizatmu pada kami sekarang, aku tidak ingin kehilangan Joonsoo, aku tidak bisa hidup tanpanya kumohon biarkan dia tetap dia disampingku, ini adalah permohonanku, tapi jika Bapa memiliki kehendak lain terhadap Joonsoo, beri kehidupan yang terindah untuknya disisi-Mu, karena aku percaya rencana-Mu lebih indah daripada yang kami tahu, Amin” Jinhee pun membuka matanya dan memandang patung Salib, airmata tak terdapat terbendung lagi

Chansoo duduk diruangan Joonsoo, ia tak bisa melepas ingatan kenangannya bersama Joonsoo dan perasaannya dengan Jinhee, sesaat matanya melihat kearah Joonsoo dan melihat Joonsoo membuka matanya, Chansoo segera menghampiri Joonsoo

“Joonsooo” Joonsoo melihat kearah Chansoo, chansoo lantas duduk disamping

“syukurlah kau sadar”

“Chansoo, bisakah kau membantuku”

“tentu, apa yang bisa aku bantu”

“Chansoo, neo.. Jinhee Johanya” Chansoo terdiam

“chansoo, kenapa kau diam”

“joonsoo, nan..”

“kau, tak perlu menyembunyikan itu dariku”

“aku.. tidak…”

“ini permintaanku, mungkin adalah permintaan terakhirku”

“JoonSoo..!”

“aku ingin kau menjaga dan menjadi teman Jinhee ketika aku pergi, bahkan kau harus disamping jinhee, karena aku takut dia akab terlalu berlarut dalam kesedihan, aku tidak ingin dia terluka untuk kedua kalinya karena kehilangan sahabatnya,kali ini kaulah yang akan hidup disampingnya, menggantikanku”

“aniyeo, tidak ada yang bisa menggantikanmu dan kurasa dia tidak akan bisa melupakanmu, walaupun aku berada disampingnya, jinhee akan selalu mencintaimu, dia tidak akan bisa melupakanmu, tapi akan akau berusaha disampingnya agar dia bisa mencintaiku, seperti dia mencintaimu”

“gumawo..Chansoo-ya..”

“Joonsoo, bagaimanapun Jinhee selalu mencintaimu, kau harus tahu itu”

“aniyeo.. Jinhee akan nyaman jika bersamamu”

“chansoo, aku tidak sampai kapan lagi aku bisa melihat kalian, jadi kumohon”

“Joonsoo”

“chansoo, kali ini kumohon padamu” Chansoo terdiam dan memandang wajah Joonsoo

“Joonsoo. Aku akan berusaha agar tidak mengecewakanmu..” sesaat Chansoo keluar dari ruangan Joonsoo dan menutup pintunya,ia pun melihat sejenak Joonsoo yang sedang tidur karena obat yang diberikan padanya, sesaat Chansoo menutup pintu dan duduk diruang tunggu, ia pun menangis, jiwanya pun tertekan karena harus melakukan permintaan Joonsoo, walaupun ia mencintai Jinhee, namun Jinhee tak begitu dengannya, perasaannya bertepuk sebelah tangan pada Jinhee
Chansoo pun keluar rumah sakit dan melihat jinhee sedang duduk disalah satu bangku taman rumah sakit tersebut, ia pun melihat mata Jinhee yang melihat dua orang anak yang bermain, sesaat Chansoo duduk disamping Jinhee

“apa yang kau lihat?”

“amuguto anya..”

“anak itu, mengingatkanku saat aku bertemu dengan Joonsoo, awalnya kami berteman baik saat itu, tapi setelah ayah kami memperkenalkan kami berdua semuanya jadi berubah, kupikir saat itu Joonsoo akan sangat membenci keluarga kami saat itu, tapi semuanuya salah, dan aku baru tahu saat ini
Saat itu, joonsoo bukannya membenci kami, melainkan tidak ingin keluarga kami hancur seperti keluarga saat itu, tapi aku iri dengan Joonsoo, dia masih bisa tersenyum saat itu, jika aku jadi dia mungkin aku akan jadi gila, atau lebih dari itu
Joonsoo beruntung ada kau disampingnya, aku iri saat kau bersamanya, karena kau yang mampu membuatnya tersenyum dan kembali bahagia, dank au yang membuatnya mau membicarakanku atau setidaknya berbicara denganku
Maka saat kami tahu penyakit Joonsoo, aku berpikir untuk berteman dengan kalian dan dekat dengan kalian, dan aku sangat saat kau dan Joonsoo mau menerimaku, aku hanya ingin memperbaiki semuanya, karena aku merasa Joonsoo seperti ini karena kami”

“chansoo-ya..”

“jika saja, aku bisa mendonorkan lambung atau apapun untuk joonsoo aku rela, hanya untuk joonsoo, saat ini aku..tidak bisa berkata apa-apa”

“jika Joonsoo pergi, lalu apa yang harus kulakukan, tidak ada lagi orang yang akan memberikan hari-hari yang berarti lagi, tidak ada orang yang memelukku setiap saat ketika aku bahagia dan bersedih, sekarang aku sudah tidak berdaya lagi, bahkan untuk menatap matahari esok aku merasa sudah tidak mampu, aku.. tidak bisa seperti ini, tapi Joonsoo, aku juga tidak bisa melihat nya terlalu lama menderita, aku sangat sakit melihatnya seperti ini, bahkan ingin mati ketika melihatnya kesakitan seperti itu. Tapi aku juga tidak bosa kehilangannya” Chansoo lantas memeluk Jinhee yang menangis.

Chansoo dan Jinhee pun berjalan menuju lorong rumah sakit sesaat beberapa perawat yang ia biasa lihat diruang Joonsoo berlari mereka mencoba untuk bersikap biasa namun perasaan Jinhee mulai tidak nyaman ia pun mempercepat langkahnya menuju ruang perawatan Joonsoo dan benar saja ia melihat nenek joonso sudah berada diluar sambil menangis bersama orangtua chansoo, Jinhee yang tampak kebingungan mencoba masuk untuk melihat kondisi Joonsoo, namun ayah Joonsoo/chansoo

“Jinhee”

“ajjushi, Joonsoo dia didalam baik-baik sajakan, dia, apa yang terjadi padanya, kenapa perawat itu, apa yang sedang mereka lakukan”

“Kondisi Joonsoo, kondisinya semakin melemah,dan dia..”

“dia, Joonsoo baik-baik saja, dia tidak  masalah, kenapa jadi seperti ini, aku akan memastikannya sendiri, Joonsoo dia tidak apa-apa, dia masih baik-baik saja tadi, kenapa kalian bilang seperti itu” Jinhee berusaha untuk masuk namun tangannya ditahan oleh Chansoo, jinhee berusaha untuk melepas genggaman tangan itu

“bisakah kau melepaskannya, aku hanya ingin memastikan jika,  mereka salah, joonsoo baik-baik saja dia .. dia akan baik baik saja, mereka pasti salah”

“Jinhee, biarkan dokter dan perawat itu melakukan apa yang mereka harus lakukan pada Joonsoo, dan percayalah  jika Joonsoo akan baik-baik saja, atau yang terbaik bagi joonsoo” Jinhee memandang wajah chansoo intens

“mwo..”

“jinhee..!” Chansoo pun menarik tubuh Jinhee dan memeluknya, Jinhee tetap berusaha untuk pergi menemui Joonsoo, tak berapa ia pun tenang dan duduk
Tak berapa lama dokter pun keluar dari ruangan joonsoo mereka segera menghampirinya kecuali Jinhee

“bagaimana keadaan uri Joonsoo”

“dia baik-baik saja bukan”

“dia mengalami penurunan kesadaran secara drastic kondisinya juga makin melemah, kami harus memindah Joonsoo diruan intensive, agar kami dapat memantaunya secara baik”

“apa boleh kami melihatnya”

“boleh tapi tidak lebih dari dua orang” tak berapa lama ayah Joonsoo masuk untuk sebagai orang pertama yang masuk, ayahnya pun tak dapat menahan tangisannya melihat kondisi putranya saat ini

“adeul.. uri adeul ireonawa.. apa kau sangat membenci appa, hingga kau tak mau menjawabku, maafkan appa, karena appa kau sampai seperti ini, kau menderita dari dulu karena appa, harusnya aku yang mengalami ini bukannya kau, maafkan aku..”

“aa..ppa..” ujar Joonsoo lemah

“Joonsoo-ah..”

“appa..”

“ne, Joonsoo-ah.. appa yeogiseo..”

“appa.. saranghandagu appa.. mianhae appa.. gumawo appa, appa, jika aku diijinkan hidup lebih lama, biarkan aku hidup dengan appa, namun jika tidak hanya satu hal yang ingin aku katakana, bahwa sebenarnya aku menyangi appa, aku tidak ingin appa terluka karenaku, hingga aku bersikap seperti itu dengan appa..
Ajjuma..”

“ne..Joonsoo-ah.. ada apa sayang”

“ajjuma bisakah saat ini juga aku memanggilmu eomma, aku sangat rindu dengannya, aku ingin memeluk ajjuma seperti aku memeluk eomm..”

“ne,, tentu Joonsoo, aku akan sangat bahagia jika kau mau memanggilku dan menganggapku sebagai eomma-mu..” sesaat mereka keluar dan giliran nenek Joonsoo yang segera masuk, setelah neneknya masuk chansoo mencari keberadaan jinhee yang menghilang, ia pun berlari pergi mencari Jinhee
Setelah masuk dan menggunakan pakaiana steril nenek Joonsoo segera menggengam tangan Joonsoo dan menangis

“heuheuheuheuh…heuehuehe…heuehuehe..”

“halmoni uljimara…
Na kwaenjana, halmoni bilang setiap keadaan pasti ada magsud tersendiri bukan
Halmoni, kau adalah halmoni terbaik didunia, kau selalu memaskanku makanan terlezat yang ada didunia, kau juga bekerja keras untukku, kau adalah malaikat yang hidup didunia, gumawo halmoni..”

“heuehueh.. Joonsoo-ah,,, heheueh.. jangan pergi meninggalkanku sendiri bagaimana kau bisa melakukan itu padaku”

“halmoni, tetaplah menjadi halmoni yang kukenal..”

“heuehueh joonsoo-ah..”
Sementara chansoo mencari Jinhee yang duduk dibangku ruang tunggu umum, chansoo berjalan mendekatinya

“apa yang kau lakukan disini, apa kau mencoba menghindarinya”

“kau tidak tahu apa-apa, kau tidak tahu apa yang sedang kurasakan saat aku membayangkan bagaimana kondisi Joonsoo, bagai hampir mati rasanya, bahkan lebih baik aku ditikam seribu pedang dari pada harus melihat joonsoo menderita seperti itu, hatiku begitu sakit”

“kau tidak ingin menemuinya”

“..”

 “baiklah, akan kusampaikan pesanmu untuknya, aku akan bicara padanya, dokter mengatakan mungkin ini kesempatan terakhir, sebelum Joonsoo tidak bisa menahan sakitnya, kuharap kau tidak menyesal” Chansoo pun meninggalkan Jinhee, tak berapa lama chansoo datang nenek pun keluar dari ruangan Joonsoo, saat hendak masuk ayah chansoo menahan chansoo agar membiarkan Jinhee yang berjalan dibelakangnya masuk lebih dahulu, mereka pun memandang Jinhee, jinhee pun berjalan menuju ruang perawatan joonsoo ia pun melihat joonsoo terbaring lemah, jinhee pun duduk disamping ranjang joonsoo, jinhee memegang tangan joonsoo dan menciumnya kemudian meletakannya dipipinya

“apa kau bisa merasakan kehadiranku, apa kau mendengarkanku kumohon buka matamu dan lihatlah aku,Joonsoo,sekarang aku disini, jika kau mendengarku tolong jawab aku, Joonsoo aku sangat mencintaimu aku tak mau kau seperti ini,kumohon bertahanlah, kumohon kau tetaplah disisiku” sesaat Joonsoo membuka matannya, dan mengusap airmata Jinhee

“Joonsoo-ya..”

“ehm.. ne..” Jinhee memeluk erat Joonsoo seraya menangis

“uljimarayo.. aku tak ingin melihatmu menangis kumohon, jangan menangis, apa kau bisa melakukan itu untukku”

“Joonsoo-ya..”

“hiduplah lebih bahagia lagi, maaf aku tak bisa lagi disisimu untuk menikmati kebahagiaan bersama, tapi aku percaya kau bisa lebih bahagia daripada yang aku kira”

“Joonsoo-ya jangan bicara seperti itu..”

“Jinhee, aku sangat lelah bisakah kau disampingku aku ingin tidur bersandar disampingmu” Jinhee pun duduk disamping Joonsoo dan menyanyikan sebuah lagu favorit mereka, perlahan mata Joonsoo menutup, ia pun mengembuskan nafas terakhirnya disaat lagi hampir usai, yang membuat Jinhee mencoba melanjutkan nyanyiannya, tapi ia tak sanggup

“Joonsoo-ya,, kau bisa mendengarku, apa kau tidak ingin menyanyi bersamaku, Joonsoo-ya bukalah matamu, kya…. Ahheu.. Joonsoo-ya… ireona… ireona… heuehueheuehuehe… Joonsoo-ya..ah.. heuh.. heueheuh…ahuaheahuaehuaeh…” Jinhee pun menangis sejadi-jadinya ketika kepergian Joonsoo, mereka yang diluar pun menyadari keadaan tersebut dan tak luput dar haru mereka pun menangis, bahkan halmoni pun hampir jatuh pingsan, ajjuma pun lemas tak berdaya bongmun pun tak kuasa menahan tangisnya begitu pula dengan Chansoo yang tak kuat menahan badannya.

5 tahun kemudian mereka memulai kehidupannya yang baru, kini Jinhee mulai bekerja sebagai penulis terkenal dari beberapa drama, Chansoo pun kini bekerja sebagai fotografer professional. Sesaat mereka pun jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, suatu hari mereka pun bertemu disebuah kafe. Jinhee pun menunggu Chansoo sambil menulis karya fiksi miliknya. Tak lama Chansoo pun datang dan duduk didepan Jinhee
“apa kau menunggu lama”
“ehm..”
“mianhae.. ada iklan yang aku harus tangani”
“kau selalu begitu”
“ini sudah lima tahun tak terasa kita sudah punya pekerjaan, dan saling sibuk, aku tak ingin masalah bagi kita, bagi hubungan kita, chingu-ya..”
“nan..”
“aku tahu kau tak mau membahas itu, tak masalah, aku juga tidak memaksamu”
“chansoo-ya, kita sudah mulai semua dari awal, kurasa aku juga ingin memulainya” mereka pun sama-sama tersenyum satu sama lain
Jinhee pun berjalan disbuah taman ia pun mengingat masalalunya bersama Joonsoo, ia pun berjalan menuju arah pohon maple yang kini makin membuat ia makin mengingat Joonsoo. Ia duduk bersandar dipohon tersebut sambil memotret pemandangan, mtanya pun terpejam dan bersandar pada sebuah bahu
“apa kau menunggu lama” Tanya Jinhee pada pemilik bahu itu
“ehmm..”
“mian,, aku sudah menunggumu terlalu lama”
“anyi..  kau jangan begitu”
“Kya Joonsoo..”
“mwo..”
“nan.. saranghae.. bogoshipoyo…”
“nado… nado saranghae.. nado bogoshipoyo…” Jinhee pun tidur dipelukannya, kemudian Joonsoo pun mencium kening Joonsoo

‘aku sudah kehilangannya, tapi aku masih memiliki cintanya, sampai selamnya aku tetap mencintainya, aku takkan bisa melupakannya walau kini aku sudah dengan orang lain, tapi aku pun selalu mengingat namanya dihatiku, sudah terukir didalam hatiku dan takkan pernah terhapus, karena Joonsoo yang pertama kali mengukir cinta itu, dan Joonsoolah orang pertama yang mengatur cinta itu, Hanya Joonsoo tak ada yang lain’

END


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

esther_blogspot

So We One

esther_blogspot